Jumat, 26 Maret 2010

Fatawakkal 'Alallah

Sudah merupakan hal yang wajar. Jika di dalam menjalani hidup ini umat manusia selalu merasa perlu untuk berusaha demi mencapai sebuah tujuan atau cita-cita yang ingin diraihnya. Sangat mustahil sekali seseorang dapat mengapai impiannya dengan mudah tanpa berusaha. Kalaupun ada mungkin itu hanyalah sebuah dongeng belaka yang tidak jelas dari mana asal usulnya. Dalam berusaha tersebut, adakalanya apa yang diinginkan seseorang tercapai sesuai rencana. Adapula yang tercapai tapi masih kurang maksimal, ada juga yang masih belum menampakkan hasil sama sekali padahal usaha yang mereka lakukan sudah memakan waktu yang sangat lama serta biaya yang tidak sedikit, bahkan tidak jarang pula ada yang gagal 100%. Dampak dari hasil-hasil pencapaian tersebut pun beragam. Bagi yang keinginannya tercapai biasanya melakukan pesta pora dengan sedemikian meriahnya. Sedangkan yang masih belum mencapai target maksimal akan terlihat serius menyusun kembali rencana dan strategi lain, ada juga yang putus asa dan stres karena tidak terima atas kegagalannya. Gampang menyalahkan orang lain karena merasa dirinyalah yang paling benar sendiri. Kenyataan diatas sering kita jumpai di sekitar kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita pun pernah merasakan dan melakukan hal yang serupa. Seolah-olah setiap usaha yang dilakukan harus (tidak boleh tidak) tercapai sesuai rencana. Jika tidak tercapai kita merasa hal itu bukan karena kesalahan kita, melainkan kesalahan orang lain. Mereka tidak becus dalam bekerja sama, mereka munafik, penghianat dan lain sebagainya. Berbagai macam fitnah dengan kata-kata keji dan kotor dikeluarkan untuk sekedar melampiaskan keputus asaan dan untuk sekedar mengakui diri sendiri bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan rencana. Akibatnya. Perpecahan pun tidak bisa di elakkan. Permusuhan semakin menjadi-jadi, dan akhirnya semua impian-impian tersebut sirna. Tanpa hasil apapun. Bahkan yang ada hanyalah kerugian semata. Baik kerugian secara materi, kebersamaan yang tidak lagi bisa saling dipercaya, kebencian, keangkuhan dan lebih-lebih kerugian yang akan diterima diakhirat nanti. Naudzubillah.. Lalu bagaimana agar supaya kita tidak merasa sentimen terhadap orang lain ketika keinginan yang kita perjuangkan dan usahakan tidak sesuai dengan yang diharapkan? Bagaimana agar supaya kita bisa menerima dan tidak putus asa terhadap usaha-usaha yang menuai kegagalan itu? Caranya cuma satu. Tawakkal. Ya. Tawakkal kepada ALLAH atas berbagai macam usaha yang telah kita lakukan. Apapun hasilnya kita pasrahkan sama Allah. Dalam hal ini telah Allah singgung dalam QS.Ali-Imran:159. فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali-Imran: 159) Ayat Al-Qur'an diatas saya kira sudah cukup untuk menggambarkan apa yang saya paparkan sebelumnya. Bahwa bersikap keras, egois, merasa diri paling benar dan lain sebagainya adalah merupakan tindakan yang sangat merugikan diri sendiri. Teman-teman dan sahabat atau siapapun mitra usaha kita akan menjauhkan diri dari kita. Maka dari itulah. Untuk menghindari hal semacam ini, dalam ayat diatas dijelaskan agar supaya kita berlaku lemah lembut terhadap siapapun, baik yang berpartisipasi dalam rangka mencapai tujuan kita atau bukan. Selain itu. Kita juga disarankan untuk bermusyawarah dengan mereka hingga tercetuslah sebuah keputusan yang bisa diandalkan, Solid dan berbobot. Berikutnya. Setelah usaha-usaha tersebut kita jalankan. Maka hendaknya kita bertawakkal kepada Allah. Kenapa harus tawakkal? Karena hanya ALLAH yang berhak menentukan apakah usaha kita akan menuai sukses atau sebaliknya. Kita hanya berusaha saja sambil berdoa. Sekuat tenaga dan pikiran kita kerahkan semaksimal mungkin. Dengan demikian, kita tidak perlu putus asa jika sebuah kegagalan menimpa kita. Justru jika kita harus ikhlas dan menerima dengan kondisi seperti ini, maka insyaALLAH tidak menutup kemungkinan ALLAH akan memberikan pahala atas kesabaran, usaha dan ikhtiar kita. Selain itu Allah juga telah menyinggung hal ini dalam QS. Al-Insyirah: 5-8 sebagai berikut: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyirah: 5-8) Jadi. Ketika usaha kita menuai kegagalan atau kesulitan. Maka percayalah. Bahwa dibalik semua itu suatu saat adakalanya ALLAH pasti akan memudahkan urusan kita untuk mencapai cita-cita itu. Dalam hal ini Allah bukan berarti tidak sayang sama kita ketika usaha tersebut selalu gagal, melainkan hal itu sebenarnya adalah merupakan ujian bagi kita apakah kita sabar dalam menjalani usaha tersebut.. Jadi marilah kita bulatkan tekad untuk meraih cita-cita kita. Masih banyak yang harus kita perjuangkan di dunia ini. Masih banyak hal yang harus kita lakukan dan harus kita selesaikan. Bercita-citalah dan berjuanglah dengan tekad dan keyakinan yang kuat, dengan penuh tawakkal dan kesabaran. Yakinlah bahwa yang dinilai di sisi ALLAH itu bukan pada kesuksesan kita. Melainkan pada kesungguhan ikhtiar dan usaha kita. Kesabaran dan ketawakkalan serta keikhlasan kita dalam menjalaninya. Semoga segala upaya jerih payah kita selama ini dan selanjutnya dalam rangka menggapai impian dan cita-cita kita. Kita melakukannya dengan penuh keikhlasan dan tawakkal. Amin. Wallahu a'lam..

Sabtu, 20 Maret 2010

Mumpung masih ada waktu. Siapa tahu sebentar lagi giliran kita

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un.. Berita duka. Telah meninggal dunia Bapak Fulan Bin Fulan. Pada hari Jumat tgl 19 Maret Jam 2 Dini hari. Untuk itu kami...... dan seterusnya ilaa akhirihi..." Berita duka seperti ini sudah sering saya dengar melalui corongan2 mushalla kira kurang lebih 2 kali selama bulan Maret ini. Selain itu berita duka lainnya yang berasal dari tempat lahir saya di bulan ini terhitung 4 kali yang sampai kepada saya. Belum lagi di media massa, baik koran, radio maupun Televisi. Bisa di reka-reka setiap detik di dunia ini selalu ada orang meninggal dunia. Pada dasarnya Mati memang merupakan suatu hal yang haq. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak ada yang kekal kecuali ALLAH SWT. Hal ini telah Allah firmankan sebagai berikut: Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS.Ar-Rahman,55:26-27) Jadi secara tidak langsung hakikat mati bagi terhadap apapun di dunia ini merupakan perkara yang Wajib. Siapapun orangnya, apapun pangkat dan jabatannya, seberapa kayapun harta yang dimilikinya. Jika memang sudah waktunya untuk Mati, maka tidak ada satu mahklukpun yang bisa menghalanginya dari perkara maut itu. Ada yang mengangnggap kematian si A misalnya di bilang mati mendadak, dengan alasan karena si A ini matinya tidak melalui perantara apapun. Dia sehat, segar bugar. Tapi tiba-tiba dia mati. Bagi saya mati yang seperti itu bukan mati mendadak. Dia mati itu (entah dalam keadaan sehat maupun sakit) karena memang sudah waktunya untuk mati. Hanya saja si A ini tidak tahu kalau dia harus mati dalam keadaan sehat seperti itu. Masak orang mau mati harus lewat perantara terlebih dahulu. Harus lewat sakit, kecelakaan, bunuh diri dan sebagainya? Tidak. Sama sekali tidak. Kapanpun ALLAH menghendaki kita tidak akan bisa menghindari diri dari kematian. Perkara masalah ini Allah juga sudah menegaskan dalam Al-Qur'an, yakni diantaranya terdapat pada QS. Yunus:49. Katakanlah:" Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. "Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). QS. Yunus (10) : 49 Saya yakin semua yang membaca tulisan saya ini pasti pernah membaca atau paling tidak mendengar tentang ayat Al-Qur'an yang baru saja saya sebutkan diatas. Dan secara nyata hal tersebut sudah terbukti dengan banyak nya orang meninggal dunia sebagaimana kita saksikan selama ini. Entah itu kerabat keluarga kita, tetangga ataupun orang lain. Bahkan tidak jarang kita juga kadang pernah mengusung orang yang sudah meninggal melalui keranda sampai penguburannya. Namun ironisnya diantara kita justru jarang yang ingat, bahwa suatu saat nanti kita pasti akan menyusul mereka. Entah kapan? Bisa saat ini, 1 menit lagi, 1 jam, 1 hari atau tahun mendatang kita tidak akan tahu persis kapan waktunya, yang jelas mau tidak mau kita pasti mati juga pada saatnya nanti. Sabda Rasulullah: Pandai-pandainya manusia yaitu orang-orang yang paling banyak ingat terhadap mati dan yang paling banyak kehati-hatiannya, orang-orang yang demikian itulah orang-orang yang pandai, orang yang demikian itu orang yang mati dengan kemulyaan dunia dan karomahnya akhirat. Loh.. Apa hubungannya ingat mati sama pintar? Tentu saja ada. Karena dengan mengingat mati hati kita pasti terdorong untuk selalu melakukan amal shaleh selama kita hidup. Menjalani hidup ini pasti akan dengan sangat hati-hati. Karena kita akan takut kalau tiba-tiba Allah memanggil kita dalam keadaan berbuat maksiat. Selain itu hati kita ini tidak akan diliputi penyakit cinta dunia yang begitu berlebih-lebihan. Hidup zuhud akan senanntiasa dijadikan sebabagai pola hidup. Untuk itulah. Selama kita masih diberikan kehidupan di dunia ini. Marilah kita gunakan masa hidup kita ini dengan sebaik-baiknya. Kita persiapkan segala bekal kita untuk hidup di akhirat nanti. Dan marilah kita bersama-sama dengan senantiasa selalu memohon dan bermunajat kepadaNYA agar akhir hayat kita ditutup dengan amal perbuatan shaleh sehingga kita mencapai cita-cita kita untuk mati secara khusnul khatimal. Mumpung masih ada waktu. Siapa tahu sebentar lagi giliran kita..!?? Wallahu a'lam..

Jumat, 19 Maret 2010

Ta'limul Muta'allim

Talimul-mutaallim Dikalangan pesantren tradisional kitab ini sudah sangat populer, kitab ini berisi tentang penekanan bagaimana etika santri mencari ilmu, menghormati ilmu, menghormati ahli ilmu, guru dan kyai. Oleh sebab itulah di lingkungan pesantren akan terlihat jelas bagaimana suasana sikap santri terhadap gurunya. Ta’zhimul ilmi wa ahlihi ( menghormati ilmu dan ahli ilmu ) jelas merupakan keharusan bagi setiap penuntut ilmu agar ia mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa ahlinya pada kebaikan dan semakin dekat kepada ALLAH walaupun ilmu yang ia dapatkan hanya sedikit. Tidak heran di lingkungan pesantren para santri selalu mengharapkan berkah kyai. Meraka ikhlas membantu dan berkhidmah untuk kyai dan para santri lainnya, karena dengan keberkahan itulah ia akan menambah kebaikan baik ketika selama mereka mencari ilmu dan ketika pulang ke lingkungannya masing-masing. Cerita seorang santri penimba air sumur di pesantren untuk berkhidmah walau ia tidak kelihatan menonjol, namun ketika pulang ia menjadi seorang kyai adalah cerita yang sudah populer di kalangan pesantren tradisional. Menghormati ilmu dan ahli ilmu sangat penting, bagaimana kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat minimal untuk diri sendiri kalau ketika menuntut ilmu saja sudah berani melawan guru, tidak memakai etika ketika berbicara dengan guru, apalagi sampai melakukan tindakan-tindakan anarkis dengan merusak fasilitas belajar, berdemo memaki-maki guru, na’udzu billah. Imam Ghazali menyebutkan bahwa Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat membawa rasa takut kita kepada Allah SWT dan menumbuhkan Rasa Cinta/Mahabbah kepada Alloh. Berapa banyak orang yang berilmu namun tidak membawa manfaat baik kepada dirinya maupun kepada manusia lainnya. Berilmu tapi makin jauh dari Alloh , gemar melakukan maksiat, sombong dengan ilmunya, Ambisi terhadap kehidupan dunia, senang berdebat kepada orang-orang bodoh, sombong terhadap ulama dan menganggap ulama ulama terdahulu ( salaf ) bodoh dan ahli Bid’ah, merasa paling benar sendiri dan dirinya suci. Sedangkan tanda tanda dari ilmu yang bermanfaat diantaranya adalah: * Mengamalkan Ilmu yang dimiliki dengan Hati yang ikhlas, karena ilmu membutuhkan kepada amal, amal membutuhkan kepada keikhlasan, dan keikhlasan membutuhkan kepada hati yang bersih . * Tawadhu’ dengan ilmu yang dimiliki * Tidak berambisi terhadap Gemerlap dunia pangkat, kedudukan , kehormatan dll * Memuliakan para ulama * Selalu haus akan ilmu Allah Yang Maha Luas , sehingga terpanggil dirinya untuk selalu belajar Untuk itu sebagai seorang penuntut ilmu baik itu di pesantren maupun di Majlis majlis ilmu selayaknya memuliakan guru kita dan hal hal yang berkaitan dengan ilmu agar kita memperoleh ilmu yang bermanfaat , niatkan dalam hati ketika kaki melangkah menuju Majlis ilmu semata mata menghilangkan kebodohan kita dan mencari Ridho Allah Swt. Wallahu a'lam...

Senin, 15 Maret 2010

Beda Aktifitas Anak Desa Vs Anak Kota Selepas Waktu Magrib

"Rukun islam ada berapa?" Via anak tetangga depan rumah saya hanya menjawabnya dengan gelengan kepala ketika ditanya demikian oleh istri saya. Entah itu sebuah pertanda dia tidak tahu atau malu, saya juga kurang mengerti. Tapi saya lebih yakin, kalau anak yang sudah berusia sekitar 9 tahun itu memang tidak mengerti dan tidak tahu soal rukun Islam. Jangankan rukun Islam ditanya shalat yang wajib sehari semalam saja anak pertama dari dua bersaudara itu juga mengaku tidak tahu. Padahal bapak dan ibunya beragama Islam. Bahkan rumahnyapun hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari Mushalla Nurul Huda, persis di sebelah selatan rumahnya. Pernah suatu ketika. Ketika hendak ke Mushalla untuk shalat berjamaah magrib. Saya lewat depan rumahnya yang mepet sama gang yang saya lewati. Jalan terdekat kemushalla dari rumah saya memang melawati rumahnya. Waktu itu saya liat Via begitu sangat konsentrasi sekali belajar pelajaran sekolahnya. Padahal adzan Magrib sudah selesai di kumandangkan sekitar 1 menit yang lalu. Malah yang membuat saya heran, ibunya justru mendampingi dia belajar disampingnya dengan begitu 'telatennya'. Fenomena seperti hal diatas mungkin merupakan hal yang biasa dilingkungan Masyarakat yang saya tempati saat ini. Selain Via, masih banyak lagi kasus serupa yang saya lihat. Dimana seorang anak hanya di tuntut untuk belajar pelajaran umum secara intensif. Seolah-olah dengan belajar pelajaran umum di sekolah mereka bisa mencapai segala hal yang mereka inginkan. Dan tentu saja hal yang mereka inginkan itu "cuma" sekedar materi semata. Tidak lebih. Bagi mereka, dengan hartalah mereka bisa bertahan hidup dan bahagia. Sepertinya kepercayaan mereka bahwa masih ada hidup sesudah mati nanti masih setengah-setengah atau tidak ada sama sekali. Melihat kenyataan ini. Saya kemudian jadi teringat masa lalu saya. Waktu kecil, sebelum magrib saya dibiasakan ikut teman-teman saya ke langgarnya K. Muari (Guru Ngaji ditempat saya dulu). Pada awalnya dilanggar yang ukurannya kurang lebih 10X10m2 itu, aktifitas saya hanya bermain saja. Sekali-kali saya juga diajari mengeja huruf hijaiyah sehingga hafal di luar kepala. Namun aktifitas bermain itu tidak boleh saya lakukan lagi semenjak saya sudah menikmati dengan pelajaran mengaji ini. Saya pun akhirnya paham, kalau dibolehkannya saya bermain itu hanya sekedar pancingan saja. Agar supaya saya merasa betah dilanggar tersebut bersama teman-teman saya. Setelah berkumandang adzan Isyak. Saya dan teman-teman diajak shalat berjamaah. Habis berjamaah, kami masih belum boleh pulang. Kami diajari tatacara gerakan shalat yang benar, berikut bacaan-bacaannya. Selain itu, kami juga diajari ilmu-ilmu Fiqh lainnya. Seperti tatacara berwudu', mandi besar, adab makan dan minum dan sebagainya. Habis itu baru bisa pulang. Aktifitas rutin seperti ini terus saya lakukan sehingga saya bisa baca Al-Quran dengan sendirinya (walaupun kadang masih ada kesalahan bacaan dalam tajwidnya). Jika tidak pergi kelanggar semalam saja dengan alasan tidak jelas, maka alamat keesokan harinya saya merasa malu sama teman-teman kerana selalu di olok-olok. Selain itu, Orang tua saya tidak jarang memarahi bahkan kadang memukul saya ketika saya malas-malasan untuk pergi ke langgar. Sungguh sebuah cara mendidik yang kurang manusiawi menurut saya waktu itu. Tapi manfaatnya baru benar-benar saya rasakan sekarang. Ketika saya sudah (di bilang) bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, maka pada masa ini kadang saya dan teman-teman saya yang "selevel" diminta K. Muari untuk membantu mengajari adik-adik saya yang masih belajar huruf hijaiyah hingga mereka paham dan hafal diluar kepala sebagaimana saya diajari sama beliau dulu. Aktifitas ini baru terhenti semenjak saya nyantri ke Pondok Pesantren AnNuqayah. Itulah sekelumit cerita masa kecil saya dulu. Sangat beda sekali dengan suasana lingkungan yang baru saya tempati ini. Sehabis magrib, disini justru waktu bermain bagi anak-anak selain kegiatan belajar. Ada yang main PS, nonton TV, bersepeda dan sebagainya. Padahal kata guru ngaji saya dulu, Waktu habis Magrib hingga isyak itu adalah waktu yang istijabah. Untuk itulah saran beliau agar supaya saya tidak menyia-nyiakan waktu istijabah ini, barang sedetikpun. "Eman.. benar-benar eman.." pesan beliau dengan sungguh-sungguh. Inilah sisi lain. Bahwa tak selamanya cara mendidiknya orang-orang kota itu baik bagi anak-anaknya, terutama dalam soal pendidikan Agama. Tapi itu di lingkungan saya. RT3, RT4 dan RT5 yang saya liat aktifitas anak-anak kecil semuanya pada bermain sehabis Magrib. Kalau ditempat-tempat lain..? Wallahu (Wa Ahlul Qaryah setempat - insyaALLAH) a'lam.