Tampilkan postingan dengan label makhluk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makhluk. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2015

Sabar Menanti Datangnya Buah Hati

Kehadiran anak dalam sebuah keluarga adalah hal yang paling di nanti-nantikan. Sehingga sampai ada yang menganggap bahwa tanpa kehadiran seorang anak sebuah keluarga dinyatakan keluarga yang tidak sempurna dan tidak akan menemukan kebahagiaannya. Sebab, mereka berharap dengan hadirnya seorang anak, ketika menginjak usia senja nanti, anak-anak mereka bisa merawatnya dan senantiasa medoakannya ketika mereka telah tiada. 

Itu artinya, punya anak bukan sekedar harapan akan kebahagiaan dalam sebuah keluarga. Dikaruniai seorang anak adalah amanah yang amat berat. Seorang keluarga harus hati-hati mendidik anaknya agar tidak menjerumuskannya kelak. Bukankah tidak jarang kita melihat atau diperlihatkan beberapa contoh anak durhaka kepada orang tuanya? Saya yakin, kedua orang tua tersebut tidak berharap anaknya seperti itu ketika dewasa. Kehadiran anak yang diharapkan membahagiakannya justru menjadi mala petaka bagi seluruh keluarganya. Bahkan bisa jadi petaka juga bagi lingkungannya. Disaat-saat seperti ini terkadang orang tua menyesali telah melahirkannya. Hingga timbullah sumpah serapah atau bahkan kutukan dari si orang tua. Naudzubillah.. 

Disisi lain, kita juga sering melihat sebuah keluarga yang bertahun-tahun tidak dikaruniai seorang anak. Berbagai cara dilakukan, berobat kesana-sini, terapi fisik, terapi jiwa dan sebagainya hingga menghabiskan biaya yang berpuluh-puluh juta. Ada sebagian dari usaha mereka yang dikabulkan oleh-Nya namun adapula yang tidak, sehingga (biasanya) keluarga yang kedua ini ber inisiatif mengambil anak asuh.

Bagi saya, keluarga yang tidak dikaruniai seorang anak itu bukan musibah, juga bukan karena Allah tidak senang mereka punya anak. Allah lebih tau manfaat dan mudaratnya terhadap segala takdir yang Dia berikan kepada mahkluk-Nya. Tidak ada takdir-Nya yang kejam, yang ada hanyalah prasangka buruk terhadap Allah. Lalu Allahpun benar-benar memberikan Takdir buruk. Ini terpaparkan secara jelas dalam sebuah hadits qudsi bahwa Allah itu tergantung terhadap prasangka hambanya. 

Sama seperti kita berhadapan dengan anak usia balita meminta mau makan cabe. Tentu saja kita tidak memperbolehkan karena usianya masih dini dan itu bisa membahayakan badannya. Sedangkan si anak kecil tidak tau kalau itu berbahaya di makan olehnya, justru dia malah protes kenapa orang-orang lain malah boleh memakan cabe, kenapa dirinya tidak. Itu terjadi karena dia tidak tahu, dan yang tahu bahwa cabe itu membahayakannya adalah orang yang dewasa. 

Sama halnya ketika ada pasangan keluarga memohon kepada Allah untuk dikaruniai seorang anak namun Allah belum mengkabulkan doa mereka. Sekali lagi, hal itu bukan karena Allah tidak sayang dan mencintai mereka. Pasti ada hikmah lain yang lebih berarti dan lebih bermanfaat bagi mereka daripada mempunyai anak. Allah tidak pernah tidur, jadi Allah pasti mendengar doa hambanya. Allah maha tahu, jadi Allah pasti lebih tahu apakah punya anak itu baik atau tidak bagi keluarga tadi. Allah maha adil, jadi dengan tidak dikaruniai seorang anak bukan berarti Allah memandang sebelah mata atau pilih kasih. Tugas kita hanyalah berbaik sangka kepada-Nya agar Allah menganugerahak sesuatu berdasar prasangka baik kita terhadap-Nya. 

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Berbakti kepada kedua orang tua dan agama. Menentramkan kehidupan kita disaat usia kita sudah senja. Menyelesaikan pemakaman kita dengan baik sesuai tuntunan agama dikala kita sudah dipanggil menghadapNya kelak. Selalu mendoakan kita ketika kita sudah terbaring kaku di Alam kubur. Selalu mendoakan kita agar dosa-dosa kita terampuni selama hidup di dunia ini. Semoga pula anak-anak yang kita besarkan dengan kucuran kerigat dan air mata, tidak berpaling menjadi anak yang durhaka kepada kita, orang tua kita, lingkungan kita, lebih-lebih durhaka kepada agama. 

"Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa waa dzurriyatina wa qurrata a'yuninaa wa ja'alna lil muttaqina imama. Amin.. "

Senin, 25 April 2011

Mecari Ide Sampai Es Doger

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Akhirnya saya bisa kembali menuliskan sesuatu di blog tercinta ini. Setelah sekian lama blog Cinta Syahadah ini terbengkalai karena kesibukan-kesibukan saya dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Selama blog ini terabaikan, selama itu pula saya vakum menulis. Kevakuman ini bukan karena saya tidak mempunyai ide atau gagasan. Justru beberapa bulan terakhir ini ide-ide dan gagasan-gagasan yang muncul di otak saya begitu membludaknya. Sehingga, saking banyaknya ide-ide tersebut kemudian  menghilang dengan pelan-pelan dan akhirnya ide-ide tersebut kembali kosong di pikiran saya. Innalillahi wa inna Ilaihi raji'uun.

Mengawali tulisan ini, pikiran saya masih belum terisi dengan ide-ide apapun. Namun jari-jari tangan saya tetap saya paksakan untuk menari-nari lincah diatas tuts keyboard. Apapun hasil tulisan itu nanti, bagi saya bukan masalah. Yang terpeting saya tetap berharap, mudah-mudahan ditengah asiknya jari-jari tangan saya mengetik tulisan ini ada ide brilyan yang muncul di benak saya. Amin..

Subhanallah.. Maha suci Allah.. Barusan saya dapat ide. Bahkan sebenarnya saya sudah menuliskan ide-ide tersebut disini (dibaris tulisan ini bahkan). Tapi buru-buru saya hapus tulisan tersebut, karena bagi saya, jika ide tersebut saya tuangkan dalam wacana tulisan di blog ini bisa-bisa akan membuat citra blog saya ini tidak konsisten. Sebab tidak ada sangkut pautnya dengan tema blog ini, yaitu : CINTA SYAHADAH. 

Baiklah biar tidak penasaran, saya ungkap saja sedikit tentang ide yang barusan muncul di pikiran saya. Tadinya saya mendapat ide untuk menuliskan tentang betapa birokrasi di negara kita membuat laju perkembangan SDMnya melemah. Kenapa birokrasi, karena saya berkaca kepada pengalaman teman saya. Jadi ide-ide yang tadi itu bersumber dari kisah nyata teman saya. Tapi...?? sudahlah. tidak perlu saya lanjutkan mengingat hal ini akan menjadi inkonsistensi terhadap isi blog saya. Yang penting, ide ini sudah tertulis disini dulu. Nanti kalau saya lupa, saya bisa membacanya kembali disini.

Jadi, Ide apa lagi ya? Terus terang hingga detik ini saya masih belum dapat. Tapi tidak apa-apa. Tetap berdoa saja; mudah-mudahan ide yang lain muncul sesudah ini. Sekarang, kebetulan di depan saya ada Es Doger yang barusan di belikan sama Bos. Jadi sementara saya sruput dulu dah Es ini. Eman. Entar keburu mencair.. Bentar ya..! :)

****

Alhamdulillah.. Subhanallah.. Maha Suci Allah yang menciptakan makhluknya pintar membuat Es Doger. Luar biasa nikmat. Isinya ada Es parut, mutiara, kelapa, ketan hitam, gula, air santan (kalau tidak salah) dan lain-lain. Agak kesulitan saya menyebutkannya satu persatu. Tapi yang terpenting, dan karena inilah memang yang terpenting. Akhirnya saya mendapatkan ide untuk dituliskan di blog tercinta saya ini. Alhamdulillah..!!

Ide ini muncul semenjak saya minum Es doger tadi. Terus terang selama saya hidup baru sekarang ini saya merasa menikmati Es doger. Entahlah apakah sebelumnya saya sudah pernah merasakannya atau belum, saya lupa. Sebelumnya saya mengira, Es Doger itu adalah Es yang dicampur buah Doger, artinya saya mengira Doger itu adalah nama buah lalu dicampur es. Jadilah Es Doger. Yah.. semacam Es degan itu, yaitu Es dicampur Degan berikut airnya, jadilah Es Degan. 

Setelah saya usut dengan melihatnya di depan mata saya sambil minta bantuan om google ternyata Es Doger itu adalah kombinasi Es yang diserut lalu dicampur gula pasir, santan kental, kelapa muda, tape singkong, ketan hitam, sirup merah, pacar cina dan susu kental manis. 

Luar biasa. Tapi sampai disini saya jadi kebingugan, bahkan saya tanya ke wikipedia sama Om Google pun juga ngawur-ngawur jawabanya. Siapakah kira-kira penemu Es Doger itu? Atau dalam pencarian dan rasa penasaran saya yang lebih mendalam lagi. Siapa penemu gula pasir itu pertama kali? Santan kental, siapakah orang yang pertama kali menemukan bahwa santan ini bisa dimakan? demikian juga halnya dengan kelapa muda, tape singkong, ketan hitam, sirup merah, pacar cina dan susu sapi. Siapakah penemunya. Bagaimana latar belakangnya mereka bisa tau kalau bahan-bahan Es Doger yang saya sebut tadi bisa dimakan dan tidak membahayakan bagi manusia?

Atau dalam ruang lingkup bahan-bahan masakan yang lebih luas lagi. Merica, kemiri, jahe, ketumbar dan semacamnya, siapa gerangan penemunya. Padahal semestinya, orang-orang penemu bahan masakan seperti inilah yang seharusnya juga di abadikan dalam buku sejarah. Karena terus terang diakui atau tidak, berkat jasa-jasa merekalah manusia-manusia di jaman modern ini bisa makan dan minum dengan nyaman dan enak.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali 'Imran: 191).

Terkadang kita tanpa sengaja menyepelekan hal-hal yang sering terlintas di depan mata kita. Padahal hal itu sangat berarti bagi kita untuk kita ambil sebagai pelajaran, bahwa betapa kuasa Allah itu meliputi segala sesuatu. 

Demikian dulu tulisan sederhana kali ini. Semoga dari apa yang saya tulis ini membawa manfaat bagi kita semua untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Rabbul 'Alamin. Mohon maaf kalau ada kalimat yang kurang pantas untuk dibaca pada tulisan kali ini. Saya akui tulisan ini masih tumpul analisa dan insyaAllah akan saya lanjutkan dengan bahasan yang lebih mendalam. 

Terimakasih banyak, kepada Ustadz Halimi Zuhdy atas tulisan-tulisanya yang dikirimkan via message ke Facebook  saya. Semata-semata saya buat tulisan ini karena terinspirasi dengan tulisan sampean.

Wallahu A'alam..

Jumat, 19 November 2010

Korban Merapi dan Qurban Ibrahim

"Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS Ataubah:24)

Dua hari yang lalu kita di ingatkan kembali kepada sebuah sejarah yang Agung di masa lalu. Sebuah masa dimana Allah memberikan ujian kepada hambanya Nabi Ibrahim dan dan Nabi Ismail. Dimana Nabi Ibrahim yang telah lama mendambakan seorang putra dan ketika putra itu lahir justru diperintahkan oleh Allah di ungsikan ke tanah Makkah. Sebuah daerah padang pasir yang tandus dan tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Berkat kesabaran Istrinya siti Hajar maka Allah kemudian memberikan air Zam-Zam kepada mereka melalui perantaran malaikat Jibril. 

Belum cukup sampai disitu. Setelah Ismail menginjak masa remaja kembali kesabaran nabi Ibrahim di Uji oleh Allah dengan menyuruhnya menyembelih putra semata wayangnya itu. Meskipun memilukan tapi tak sebersitpun terlintas dibenak Nabi Ibrahim untuk protes atau membantah perintah Agung tersebut. Bahkan menawarnyapun tidak sama sekali. 

Nabi Ibrahim benar-benar menjalankan peritah Allah tersebut setelah terlebih dulu berunding dengan putranya Nabi Ismail. Dengan didasari perasaan sabar, iman dan tawakkal bahwa perintah Allah itu memanglah jalan yang terbaik baginya. Maka berangkatlah Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri. Berbagai macam godaan dan hasutan disepanjang jalan yang diterima Ibrahim untuk tidak melaksanakan perintah Allah itu tetap membuatnya tidak ragu sedikitpun. Malah Nabi Ibrahim justru melawan mereka dengan melemparinya dengan batu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan "melemapar jumrah" yang dilakukan oleh jamaah haji setiap tahun di kota Makkah. 

Namun ketika eksekusi penyembelihan itu dilakukan Ibrahim menemui kegagalan berkali-kali. Bukan karena pedang Nabi Ibrahim tidak tajam. Justru dari saking tajamnya pedang nabi Ibrahim, pedang tersebut mampu memecahkan bebatuan gunung. Tentu saja semua itu adalah merupakan kehendak Allah untuk mentumpulkan pedangnya diatas leher putranya hingga nabi Ismail selamat dan tergantikan domba yang dibawa oleh Malaikat Jibril.  

Itulah sosok keluarga Nabi Ibrahim. Dari saking beriman dan tawakkalnya kepada Allah. Jangankan harta, bahkan nyawa putra kesayangannyapun rela beliau korbankan. Dan begitulah memang yang telah Allah perintahkan kepada semua umat manusia di muka bumi ini. Janganlah sampai kecintaan kita kepada harta duniawi, istri dan anak sampai mengalahkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan RasulNya. 

Allah berfirman dalam QS Ataubah: 24 sebagai berikut; "Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

* * *

Selain peristiwa Ibrahim dan Ismail. Bulan ini sebagian dari bangsa kita dihadapakan pada sebuah peristiwa bencana alam. Mulai dari Tsunami, Gempa bumi, longsor dan letusan gunung merapi. Korban nyawa dan materi tidak sedikit yang ludes dan lenyap begitu saja dan bahkan banyak yang sudah tidak bisa di fungsikan lagi. 

Hal ini merupakan pertanda sekaligus bukti bahwa materi dunia dan nyawa itu sebenarnya benar-benar tidak ada apa-apanya disisi Allah. Jadi sangat ironis sekali jika selama ini kita begitu mencintai setengah mati harta benda dan keluarga kita dengan mengabaikan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Untuk itulah. Marilah kita korbankan harta benda duniawi kita yang amat kita cintai untuk mencintai Allah SWT. Pergunakanlah harta yang kita perjuangkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bimbing, ajarkan serta wariskanlah kepada keluarga dan anak-anak kita untuk selalu berkorban apa saja. Demi semata meraih Ridha dan CintaNya yang abadi selamanya. InsyaAllah. 

Wallahu a'lam. Mohon Koreksinya.  

Jumat, 05 November 2010

Musibah dan Kasih Sayang Allah

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." ( QS Al-Hadid: 22-23)

Beberapa tahun terakhir ini, hampir disegenap penjuru dunia, terutama tanah air ibu pertiwi Nusantara ini hampir selalu diselimuti rasa berduka setiap saat. Peristiwa musibah demi musibah melanda negeri kita mulai dari Sabang sampai Merauke. Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, letusan gunung merapi. Kebakaran hutan, rumah, pasar dsb. Kecelakaan transportasi baik di darat, laut maupun udara serta kecelakaan tambang gas Lapindo Brantas yang sejak tahun 2006 lalu hingga saat ini belum juga terselesaikan.

Bisa kiranya kita membayangkan sendiri. Sudah berapa ratus juta jiwa korban nyawa yang tak tertolong? Berapa ratus juta triliun kerugian material yang harus di tanggung? Lalu berapa ratus juta jiwa manusia pasca kejadian itu mengalami gangguan kejiwaan? Betapa dahsyatnya bencana ini hingga ratusan juta nyawa dan materi bisa ludes-amblas dalam waktu yang relatif begitu singkatnya. Dan betapa Gagah Perkasa dan Kuasanya yang menjadikan musibah ini terjadi dengan begitu luar biasanya.

Lalu siapakah yang mendatangkan bencana ini? Kenapa bencana ini harus terjadi pada bangsa ini? Apakah kita telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan? Banyak melakukan kerusakan-kerusakan sehingga ada beberapa unsur alam yang tidak sesuai dan akhirnya rusak? Inilah yang perlu kita renungi dan introspeksi bersama se objektif mungkin.

Sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Hadid:22-23 diatas. Bahwa bencana yang memporak-porandakan sebagian daerah dibelahan bumi ini, termasuk bencana yang melanda sebagian wilayah nusantara akhir-akhir ini adalah Allah SWT yang 'melakukannya'. Allah pula yang telah menewaskan makhluk yang berjumlah jutaan jiwa itu dalam waktu seketika yang teramat singkat.

Oleh karena itu. Karena bencana ini datangnya dari Allah, yakni Tuhan yang Maha Mencipta dan Maha Membinasakan. Maka sekali lagi, pada saat ini juga WAJIB kiranya bagi kita untuk mentadabburi bersama terkait terjadinya musibah ini. Jika kita merujuk QS. Al-Hadid diatas, pasti musibah ini ada kaitannya dengan tingkah laku kita selama ini. Sebuah Tingkah laku yang membuat Allah 'Marah' dan lalu menegur kita dengan 'mengirim' musibah.

Ya. Bencana ini memang perlu dijadikan bahan instrospeksi sejenak terkait tingkah laku kita selama ini. Apakah sudah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya atau tidak. Syukurlah jika dalam muhasabah ini kita merasa bahwa kita memang benar-benar telah banyak melakukan perbuatan dosa atau ingkar kepadaNya. Maka segeralah kita putar haluan kejalan yang benar. Bukalah kembali Al-Quran dan kitab-kitab sunnah yang berisi ajaran dari Rasulullah SAW. Marilah kita pelajari kembali bagaimana seharusnya kita menjalani hidup didunia ini.

Tidak perlu lagi kita bersedih hati dan berduka, karena hal itu tidak akan mengembalikan suasana saat ini kekondisi semula sebelum terjadi bencana. Marilah kita bangkit dan bersyukur karena 'peringatan' ini. Dan yakinlah bahwa musibah ini datang karena Allah sayang terhadap hamba-hambanya.

Allah SWT berfiman dalam Al-Qur'an. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)

Jadi, sejatinya (secara tidak langsung) musibah yang melanda saudara kita akhir-akhir ini adalah merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada kita. Sekaligus 'tiket' bagi kita untuk menuju surgaNya. Tentu saja dengan catatan, pasca terjadinya musibah tersebut kita harus menyadari dan segera kembali kejalan yang benar - jika selama ini kita memang telah banyak berbuat dosa.

Semoga musibah-musibah yang melanda negeri kita belakangan ini menjadi bahan istrospeksi bagi diri kita bersama untuk kembali kejalan yang benar. Menjadi orang yang benar-benar bertaqwa kepadaNya. Dan semoga para korban bencana yang meninggal dunia dapat diterima segala amal kebaikannya serta dimaafkan segala perbuatan salah dan dosanya. Amin..

Wallahu A'lam.. Mohon Koreksinya.. 

Senin, 25 Oktober 2010

Manusia Kelas Sandal

Kejadian tentang buah rambutan yang ranum nam merah merekah dijual oleh beberapa pedagang buah di sebuah pasar. Rambutan yang dari luarnya saja keliatan manis ini, tepat menempel diatas buah yang berbulu itu terdapat sesuatu yang menyerupai biji kacang polong. Namun bentuknya amat kecil seperti kerikil. Warnanya hijau dan jika dimakan akan terasa pahit dilidah. Biji-bijian kecil itu akan sering ditemui nempel diatas buah rambutan yang merah dan manis.

Beberapa saat kemudian. Datanglah seorang untuk membeli buah rambutan yang merah itu. Setelah tawar menawar lalu terjadilah kesepakatan harga diantara penjual dan pembeli itu; Rp. 10.000,- / Kg. Selama menimbang buah rambutan itu, sipenjual tidak begitu menghiraukan sebuah "biji kacang polong hijau" yang menempel dimasing-masing buah yang masuk timbangan itu. Sekalipun biji itu tampak terlihat. Sipembelipun juga tidak protes akan hal tersebut. Padahal secara logika, "biji kacang polong hijau" itu tentu saja akan mempengaruhi timbangan, walaupun tak seberapa.

Ketika selesai, si penjual memasukkan buah rambutan itu kedalam tas plastik. Si "biji kacang polong hijau" pun juga ikut serta kedalam tas plastik tanpa dihiraukan. Ketika sipembeli menerima tas plastik yang berisi rambutan itu dan membayarnya, lalu kemudian dibawa menuju sebuah mobil mewah miliknya, maka dengan serta merta si "biji kacang polong hijau" pun turut serta menikmati nyamannya naik mobil mewah dengan menempel terus pada buah rambutan yang manis itu.

Begitulah hebatnya si "biji kacang polong hijau" yang selalu nempel pada buah rambutan manis. Kemanapun ia pergi maka biji-biji itu akan ikut serta menemaninya. Padahal secara spesifik tidak ada sama sekali yang istimewa dari biji-bijian itu. Rasanya malah pahit kalau dimakan. Bahkan seandainya dari sekian biji-biji itu dipetik di tiap-tiap buah rambutan yang merah, lalu kemudian dikumpulkan - maka jangankan dijual, dikasih secara cuma-cumapun kita pasti tidak mau.

Sepenggal kejadian diatas, mengingatkan pada sebuah kejadian lain sewaktu saya nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Setiap kali Kiai pengasuh ke mesjid untuk mengimami shalat berjamaah dan ketika Sandal beliau dilepaskan di teras, maka begitu antusiasnya para santri berebutan untuk membalikkan dan merapikan posisi sandal pengasuh itu - agar sewaktu turun dari mesjid nanti beliau gampang memakainya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sandal santri itu sendiri. Dimana setiap usai shalat jamaah di mesjid, pasti saja ada santri yang kehilangan sandalnya. Entah itu dipinjam atau bahkan diambil sama santri-santri yang lain.

Peristiwa "penghormatan" terhadap sandal Kiai ini bukan hanya terjadi di Pesantren. Diluar pesantrenpun juga demikian. Sandal Kiai ini pasti selalu mendapatkan perlindungan yang istimewa dari masyarakat. Bahkan kadangkala tidak satupun sandal masyarakat berani dekat-dekat apalagi bersentuhan dengan sandal kiai yang dilepaskan diteras rumah maupun langgar. Walaupun, sebagaimana biji hijau rambutan diatas, merek sandal kiai tersebut - secara kualitas pasaran - harganya amatlah murah dari pada sandal-sandal yang dipakai masyarakat. Lalu kenapa "sandal murahan" kiai itu bisa "lebih mulya" statusnya dari pada sandal-sandal yang dipakai masyarakat dan para santri? Jawabannya tentu saja, karena sandal itu menempel pada Seorang Kiai atau Ulama yang ilmunya begitu luas dan kharismatik di mata masyarakat.

Contoh kasus lain semasa Rasulullah SAW. Ada seorang sahabat namanya Ibnu Mas'ud. Beliau setiap harinya selalu berpenampilan rapi, harum dan bersih. Padahal pekerjaannya setiap hari "cuma" sebagai tukang bawa sandal Rasulullah. Ketika ditanya oleh Sahabat yang lain; "Gerangan apakah yang membuatmu selalu rapi, bersih dan harum itu wahai Ibnu Mas'ud?". Ibnu Mas'ud Menjawab; "Ini aku lakukan semata karena menghormat sandalnya Rasulullah". Begitu mulyanya sandal Rasulullah itu sehingga Ibnu Mas'ud pun menghormatinya dengan selalu berpenampilan rapi, bersih dan harum.

Pun demikian halnya ketika melalkukan Isra' Mi'raj. Ketika Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril sampai di Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah SAW : "Wahai Rasulullah.. kiranya saya cukup mengatarkan Rasulullah sampai disini saja. Silahkan Nabi melanjutkan perjalanan sendiri menemui Allah SWT."

Rasulullah merasa sanksi dengan pernyataan Malaikat Jibril. Bayangkan sejak dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga sampai di Sidratul Muntaha Rasulullah selalu bersama Jibril sebagai "penunjuk jalan" Beliau. Ketika melihat sesuatu yang tidak dipahami oleh Rasulullah maka Jibrillah yang menjelaskan kepada Rasullah perihal yang dilihatnya itu. Lalu kali ini tiba-tiba malaikat Jibril tidak bisa mendampingi lagi perjalanan Rasulullah "menemui" Allah. Kemudian Rasulullah menjawab: "Wahai Jibril.. tegakah aku ditempat ini meninggalkanmu..." Jibril kembali menjawab: "Wahai Rasulullah, diantara kita ini ada derajad sendiri-sendiri. Derajad saya cuma sampai disini Rasulullah. Sedangkan derajad engkau masih terus keatas..". "Tidak apa-apa wahai jibril, ikutlah denganku..."  Jawab Rasulullah. "Wahai Rasulullah, Jika saya paksakan diri untuk ikut Rasulullah maka satu langkah saja saya ikut maka saya akan terbakar "disana" ya Rasul..." Akhirnya Rasullullah pun "menyerah" dan melanjutkan perjalanannya seorang diri. Yang menarik waktu itu Rasullullah "menemui" panggilan Allah sambil memakai sandal beliau.

Hal ini berbeda kejadiannya, dalam kasus yang hampir sama, ketika nabi Musa "ngotot" hendak menemui Allah. Dibukit Turizinai Nabi Musa menghadap Allah sambil membawa serta Sandalnya. Kemudian diisitulah - tepatnya di Wadil Muqaddas - Nabi Musa ditegur Oleh Allah, "Ikhla' Na'laika yaa Musa.. Fa Innaka bil muqaddasi tugha.." Artinya, "Buka sandalmu itu Musa, karena sesungguhnya di (Wadil) Muqaddash ini adalah tempat yang mulia.."

Sungguh Hebat nian Rasulullah, Nabi Musa tidak boleh menemui Allah dengan mengenakan sandal - walaupun pada akhirnya nabi Musa pingsan karena tidak kuat dengan CahayaNya Allah. Namun Nabi Muhammad justru tidak ditegur oleh Allah ketika Mi'raj "menemui"Nya dengan meninggalkan malaikat Jibril di Sidratul Muntaha.

***

Begitulah manusia. Jika manusia sudah saking mulya derajadnya, maka ia mampu "mengalahkan" derajad kemulyaan Malaikat. Bahkan sandal Rasulullah pun bisa dibilang lebih mulya dari pada Malaikat Jibril. Kenapa? Karena Jibril tidak bisa "menemui" Allah, tapi sandal Rasulullah bisa "bertemu" Allah karena menempel di kaki Rasulullah.

Demikian juga jika manusia saking bejat perilakunya, maka bisa saja ia lebih bejat dari binatang sekalipun. Ambil Contoh tupai yang mencuri biji kelapa, maka dalam aksinya tupai tidak serta merta merusak buah kelapa itu. Melainkan dilubangi kulitnya terlebih dahulu sehalus mungkin, baru kemudian si tumpai ambil isi kelapa itu. Namun akan berbeda kasusnya ketika manusia yang mencuri buah kelapa. Bisa dipastikan bukan kelapanya saja yang dicuri, bahkan sama pohon-pohonnya pun sekalian diembatnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan bagi kita bersama. Kalau sandal Rasulullah - yang tidak melakukan Ibadah sama sekali itu bisa sedemikian mulya derajadnya. Masak manusia semacam kita ini, yang selalu Shalat, Zakat, Puasa bahkan Haji tidak bisa lebih mulya atau paling tidak menyamai derajad sandal Rasululah? Masak kita akan kalah sama sandal kiai yang selalu di tata posisinya oleh para santri ketika sang Kiai naik ke Mesjid? Masak kita kalah "sama biji kacang hijau" yang selalu nebeng timbangan harga dan kenyamaan naik mobil mewah sama rambutan merah yang manis?

Jawabannya; BISA..!! Caranya? "Nebeng" juga sama ulama-ulama. Dekatlah sama mereka. Maka dijamin, sebagaimana Firman Allah dalam Hadits QudsiNya. "Ayyuhassyaabu... Attariku syahwatahu min ajli, anta 'indi ka ba'di malaikati", Artinya, "Wahai pemuda yang mampu mengekang hawa nafsunya karenaku, maka "derajat" kalian adalah sama seperti kebanyakan malaikatku". Dekat dengan para ulama, InsyaAllah dijamin kita bisa menahan dan mengekang hawa nafsu kita. Dan dengan cara itulah Allah menyamakan derajad kita dengan Malaikat.

Jadi. Sesungguhkan kalau dipikir-pikir dengan matang. Kita ini, yang belum begitu banyak punya pengetahuan tentang agama. Sejatinya hanyalah manusia kelas Sandal. Kelas sandal yang tidak akan berarti apa-apa tanpa mencari "tebengan" kaki yang dipunyai oleh Nabi, para Sahabat dan para Ulama'. Untuk itulah mari, (sebagai manusia kelas sandal) mulai saat ini juga carilah "tebengan" yang sekiranya bisa mengangkat derajad kita. Tenju saja sebagaimana sandal biasanya, kita harus ikhlas disuruh bagaimanapun oleh "tebengan" kita. Disuruh shalat, ya Shalat. Disuruh Zakat, ya berzakat. Disuruh puasa ya puasa...

Dari Anas, dia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, "Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi, jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak kena arangnya (percikannya), maka kamu akan terkena asapnya." (HR. Abu Dawud).

Wallahu A'lam. Mohon Koreksinya.. Terimakasih..

Jumat, 22 Oktober 2010

Keajaiban Gelombang Alfa di Alam Bawah Sadar. Bagian 2

Manusia menggunakan otak (mesin kesadaran) yang kecepatannya cuma 2000 bit perdetik. Sementara informasi yang membanjiri otaknya mencapai 400.000.000.000 bit perdetik. Jadi, saat kita meragukan keterangan ilmu pengetahuan modern, seberapa besarkah mesin kesadaran yang kita pakai untuk meragukannya. Bagaimana kita bisa begitu yakin akan sesuatu yang sangat sedikit kita pahami itu. William Arntz, Betsy Chasse & Mark Vicente. ) Sebagaimana dituliskan kembali oleh Erbe Sentanu - The Science & Miracle of Zona Ikhlas.


Diakui atau tidak, panca indra pada dasarnya cenderung menipu pemahaman manusia. Baik dari apa yang dilihat, di rasa, diraba, dicium dan di dengar. Kelima panca indra tersebut dominan memberikan informasi yang tidak tepat terhadap pemahaman kita. Singkatnya, kelima panca indra yang kita gunakan selama ini mempunyai banyak keterbatasan-keterbatasan. Ambillah sebuah contoh, mata yang kita punya ini ternyata tidak mampu melihat benda-benda kecil semacam atom atau molekul-molekul pada air yang kita minum. Sedangkan telinga, ia juga hanya bisa mendengar suara dengan frekuensi 20 sd 20.000 Hertz getaran perdetik. Sedangkan suara diatas atau dibawah frekuensi tersebut maka telinga kita tidak akan mampu menangkapnya. Misalnya gelombang suara radio atau suara-suara hewan lainnya seperti semut, kecoa dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah maka manusia membutuhkan indra lain yang bisa membantu kekurangan panca indra tersebut. Menyikapi hal ini, maka  pada tiap diri manusia itu (sebenarnya) telah diberikan oleh Allah SWT apa yang namnya Indra ke Enam. Hanya saja sebagian besar dari manusia lebih banyak yang acuh tak acuh dengan indra ini. Bahkan tidak percaya sama sekali. Padahal Indra ke enam ini semestinya di fungsikan untuk membantu efektifitas kinerja panca Indra kita.

Lalu dimanakah letak dari pada Indra ke Enam itu. Ari Ginanjar Agustian dalam ESQ Power-nya demikian juga Erbe Sentanu dalam Quamtum Ikhlasnya serta Agus Mustofa dalam serial diskusi tasawufnya - secara tidak langsung - mereka seolah-olah mensepakati bersama bahwa Indra ke Enam dalam diri manusia itu adalah Hati. Dimana Hati ini pada dasarnya telah mempunyai sifat-sifat fitrah alamiah yang diberikan oleh Allah sejak manusia masih berada dalam kandungan. Sifat-sifat fitrah tersebut adalah yakni sifat-sifat Allah SWT yang 20.

Dari sifat-sifat fitrah alamiah inilah kemudian hati mempunyai kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan alam pikiran kita. Dimana kekuatan-kekuatan dahsyat itu adalah berupa perasaan-perasaan yang bersumber dari dalam hati itu sendiri.

Dalam penelitiannya selama 20 tahun, Erbe Sentanu dalam Quamtum Ikhlasnya memaparkan bahwa; pikiran tak hanya terkait pembagian otak secara fungsional, tapi juga pembagian berdasarkan aspek kesadarannya. Umumnya manusia hanya memanfaatkan pikiran sadarnya yang memiliki kekuatan hanya 12 persen dari keseluruhan kekuatan pikirannya. pikiran sadar inilah yang biasa kita maksud ketika menyebut seseorang sedang menggunakan "otak"-nya. Sedang yang 88% lainnya merupakan kekuatan bawah sadar yang secara umum hanya muncul dalam bentuk "perasaan"-nya.

****

Kembali ke pembahasan Keajaiban Gelombang Alfa di Alam Bawah Sadar pada tulisan saya dibagian pertama, tentang ke ajaiban-keajaiban yang terjadi pada Rasulullah, Sahabat Ali Bin Abi Thalib dan Wali Songo pada masa dahulu. Percaya atau tidak bahwa rahasia kekuatan mereka pada waktu itu adalah berangkat dari kekuatan hati yang diaksesnya melalui alam bawah sadar tepatnya di gelombang Alfa.

Sebelum Nabi SAW diberangkatkan Isra' Mi'raj. Waktu itu kondisi psikologis Nabi Muhammad berada pada 'titik kritis'. Dimana paman Beliau Abu Thalib dan Istri tercintanya Siti Khadijah 'dipanggil' oleh-Nya. Selain itu keadaan umat Muslim saat itu dalam keadaan di Boikot perekonomian dan hubungannya oleh Kafir Quraisy. Akibatnya umat Muslim saat itu benar-benar berada dalam kondisi kritis.

Demi melihat keadaan ini. Nabi Muhammad SAW pun pasrah dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi pada Allah SWT dengan berdzikir dan melalukan perenungan sebagaimana dilakukan dalam Gua Hira' dulu sebelum masa kenabiannya. Dzikir beliau dilakukan dengan begitu khusuk dan hati ikhlas serta pasrah berserah diri - sampai perasaan beliau berada di alam bawah sadar. Beberapa saat kemudian, lalu datanglah Malaikat Jibri yang diutus Oleh Allah untuk membawa Nabi Isra' dan Mi'raj. Dalam peristiwa itu, Nabi diperlihatkan dengan berbagi keindahan-keindahan alam semesta. Mulai dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsha dan bahkan hingga sidratul muntaha. Semua perjalanan nabi ini dimaksudkan oleh Allah untuk menghibur Nabi Muhammad SAW, sekaligus untuk menunjukkan betapa Kekuasaan dan Ke serba-Maha-an Allah itu memang benar adanya.

Untuk itulah perlunya kita selalu berpasrah dan Ikhlas kepada Allah atas setiap masalah apapun yang melanda kita. Semata karena dengan ikhlas dan berserahlah - dengan sebenar-benarnya Ihklas yang hanya bisa di akses di alam bawah sadar - Allah benar-benar akan memberikan kita kebahagiaan dari jalan yang tiada kita sangka sebelumnya. Seperti Nabi Muhammad yang mengikhlaskan segala masalah umat dan perjuangannya kepada Allah, maka tanpa disangka-sangka kemudian Nabi SAW di Isra' Mi'raj-kan oleh Allah SWT.

Demikian juga dengan kisah Ali bin Abi Thalib, yang tertembus panah pada punggungnya. Beliau tidak merasa kesakitan diwaktu anak panah itu dicabut dari tubuhnya dikala beliau shalat. Malah sehabis shalat Ali masih bertanya kepada sahabat; "Sudahkah dicabut mata panah tadi?". Keajaiban ini terjadi semata-semata karena dalam shalatnya, Sayyidina 'Ali benar-benar mendirikan shalat sambil menyelam kealam bawah sadarnya. Sehingga pada saat berada di gelombang Alfa beliau tidak merasakan sakit sewaktu anak panah itu dicabut dari tubuhnya.

Contoh kasus terakhir, adalah keajaiban wali songo dalam melakukan musyawarah dengan cara 'hanya' berdiam diri ditempat tinggal masing-masing. Padahal jaraknya diantara mereka sangat jauh. Namun ajaibnya musyawarah itu tetap menelurkan kesepakatan-kesepakatan bersama. Setelah dicermati ternyata dalam diam dan khusuknya para wali songo ketika 'rapat' itu adalah sedang Mengakses alam bawah sadar. Sehingga dari alam bawah sadar itulah - melalui gelombang Alfa - mereka bisa mengakses perasaan masing-masing para wali dengan frekuensi gelombang yang (mungkin) sangat tinggi sekali. Ibarat gelombang radio FM yang hanya bisa di akses di gelombang 100000 Hz sampai 100000000000 Hz. Maka telinga 'secara telanjang' tidak akan mampu menangkap gelombang itu. Dan hanya radio Fmlah yang bisa menangkap signal suara itu.

***

Begitulah.. ternyata resep untuk selalu bisa merasakan damai dan tentram di dunia ini tidaklah cukup sulit, namum belum tentu bisa kita lakukan dengan mudah. Baik dalam keadaan shalat, berdzikir, dan berdo'a, kita kadangkala hanya melakukan ritual saja, tanpa mampu menyelam kealam bawah sadar pada gelombang Alfa dalam diri kita. Singkatnya.. Kita jarang sekali (bahkan mungkin) tidak pernah memfungsikan indra ke Enam dalam tubuh kita. Dan ini sungguh benar-benar mubadzir....

Wallahu A'lam.. Mohon Koreksinya.. 

Selasa, 19 Oktober 2010

Keajaiban Gelombang Alfa di Alam Bawah Sadar. Bagian 1

Dijaman modern ini banyak penelitian-penelitian yang dilakukan oleh beberapa ilmuan-ilmuan untuk mengungkap berbagai macam misteri kehidupan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Sebut saja misalnya kejadian-kejadian ajaib di masa lalu, dimana masyarakat Indonesia menyebut hal ini sebagai ilmu kesaktian, Mukjizat (bagi Rasul atau Nabi) atau karamah (bagi orang-orang selain Nabi dan Rasul).

Berbagai keajaiban-keajaiban yang terjadi di masa lalu itu dimasa kini sedikit demi sedikit sudah mulai terungkap rahasianya secara ilmiah. Contoh misalnya, keajaiban Mukjizat Nabi Muhammad SAW ketika melakukan Isra' Mi'raj Dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa di Palestina, lalu kemudian Mi'raj ke langit ketujuh atau ke Sidratu Al-Muntaha. Peristiwa itu benar-benar ajaib, karena dilakukan oleh Nabi dalam waktu satu Malam saja. Sontak masyarakat Makkah sebagian ada yang tidak percaya waktu itu karena hal itu mustahil dilakukan oleh manusia biasa seperti Muhammad. Ada yang ragu-ragu antara percaya dan tidak percaya, karena mereka mengenal Rasulullah adalah orang yang sangat jujur sehingga beliau mendapat gelar Al-Amin. Satu-satunya orang yang percaya pertama kali waktu itu adalah Abu Bakar Ra dengan mengatakan; "Kalau Muhammad Saw. mengatakan demikian, saya percaya. Bahkan saya mempercayai yang lebih aneh dari itu..."

Contoh keajaiban lagi, adalah kisah sang pembela Islam Ali bin Abi Thalib yang tertancap mata panah di punggung saat pasukan Islam menggempur musuh. Beliau sungguh kesakitan, dan tak ada cara lain kecuali mencabut mata panah itu. Lalu dalam kesakitannya Ali bin Abi Thalib berkata kepada sahabat, "cabut mata panah ini saat aku berdiri di rakat kedua..". Lalu Beliau menunaikan shalat sunnah 2 rakaat. Waktu itu tidak ada lagi tanda kesakitan di wajahnya yang tunduk khusyu'. Rakaat kedua tiba dan sahabatpun mencabut anak panah itu. Tak ada tanda kesakitan. hanya darah segar yang mengalir deras. Luka segera diobati. Setelah salam akhir shalat, sang pembela Islam ini bertanya, "Sudahkah dicabut mata panah tadi?".

Contoh berikutnya ketika Wali Songo di tanah jawa ini menyebarkan agama Islam. Konon entah setiap minggu atau tiap bulan, ketika beliau-beliau melakukan musyawarah atau pertemuan, para wali ini bukan dengan cara menghadiri sebuah tempat dalam satu majelis, melainkan mereka berada pada tempat semedi masing-masing. Ada yang di Jawa Timur seperti Sultan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri(Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Ampel Surabaya, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, (Tuban). Di Jawa Tengah ada Sunan Kudus. Sedangkan di Jawa Barat ada Sunan Gunung Jati atau dikenal juga dengan Syarif Hidayatullah. Benar-benar sebuah karamah dari Allah. Meskipun tempatnya saling berjauhan, namun musyawarah Waliyullah tersebut tetap "nyambung" dan tentu saja menghasilkan sebuah keputusan-keputusan yang amat penting untuk kemajuan dakwah mereka.

Dari beberapa keajaiban Mukjizat dan karamah yang saya contohkan diatas, pada masa kini telah banyak yang menelitinya. Dan Subhanallah keajaiban-keajaiban itu sedikit demi sedikit mulai terungkap secara ilmiah. Bagaimana caranya? Cukup mudah bagi mereka, tapi bagi kita belum tentu mudah, bahkan mungkin sangat sulit sekali. Yakni cara yang mereka lakukan adalah dengan Menyelam terlebih dahulu ke Alam Bawah Sadar lalu dari alam bawah sadar itulah muncul gelombang-gelombang Alfa yang terbukti secara ilmiah mempunyai berbagai macam kekuatan.

Bagaimanakah cara kerjanya..?? Tunggu tulisan saya berikutnya..   

Wallahu A'lam.. Mohon Koreksinya..

Jumat, 15 Oktober 2010

Sungguh Tidak Ada Yang Sia-Sia

Kodrat manusia dan strata sosial didunia ini memang berbeda-beda dan dari perbedaan-perbedaan itulah manusia bisa saling melengkapi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Karena pada dasarnya tidak ada satupun mahlukpun didunia ini yang sempurna. Semuanya. Kecuali hanya Allah SWT yang menciptakan segala sesuatu yang ada di penjuru alam semesta ini yang benar-benar sempurna. Oleh karena itu. Dengan alasan ke tidak sempurnaan itulah semua mahluk di alam semesta ini saling membutuhkan. Dan dari itupulalah kemudian tercipta sebuah tatanan-tatanan dan status strata sosial. Mulai dari seorang buruh, petani, pegawai, pegawai, pejabat, pengusaha, guru dan lain sebagainya. Dari berbagai macam jenis pekerjaan dan profesi yang saya sebutkan tadi semuanya sama-sama saling membutuhkan dalam rangka untuk mencapai tujuan masing-masing. Selain sesama manusia. Masih dengan alasan yang sama, yakni karena memang tidak ada mahluk yang sempurna di alam semesta ini. Seringkali suatu makhluk yang lain kadang membutuhkan makhluk lainnya untuk mencapai tujuannya. Bahkan dengan benda mati sekalipun. Hal ini merupakan sunnatullah yang (tidak boleh tidak) harus kita akui kebenaran dan keberadaannya. .... "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. QS. Azzumar. 191 Ya begitulah memang. Tiada satupun ciptaan Allah di alam semesta ini yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Hanya saja karena keterbatasan akal kita, kita kadangkala sulit menerka bahkan kadang tidak tahu sama sekali maksud Allah menciptakan suatu makhluk tertentu. Padahal tanpa kita sadari kadangkala kita justru merasa butuh terhadap makhluk yang kita tidak tau manfaatnya itu. Contoh kasus misalnya. Dirumah saya banyak dihuni oleh kecoa yang setiap hari sering mengganggu aktifitas saya. Baik dikala tidur maupun dikala terjaga. Karena sering mengganggu itulah saya mengadu pada Allah. "Ya Allah. Kecoa ciptaanMu ini sering mengganggu keluarga saya ya Allah. Baik diwaktu tidur maupun dikala terjaga. Bahkan dalam shalatpun kadang saya merasa tertanggu dengan salah satu makhluk cipataanMU itu ya Allah". Bahkan karena saking jengkelnya saya sampai bertanya-tanya dalam doa saya "kira-kira apakah gerangan Engkau ciptakan kecoa itu yaAllah. Bukankah iya sama sekali tidak bermanfaat bagi kami kecuali hanya membuat kami terganggu....". Selang beberapa menit kemudian sehabis doa itu ditutup dengan Amin dan Surat Al-Fatihah. Tiba-tiba pintu depan rumah ada yang mengedor-gedor dengan kasarnya. Setelah pintu dibuka betapa kagetnya saya mendapati 3 orang preman bertubuh kekar layaknya raksasa dengan wajah yang beringas. Tanpa babibu 3 preman tadi menodong saya dengan senjata tajam seraya meminta sejumlah uang sama saya. Belum sampai saya menjawab sepatah katapun. Salah satu preman kekar yang berdiri paling belakang tiba-tiba lari ketakutan dari rumah saya sambil teriak minta tolong. Praktis dua orang temannya pun juga ikut lari ketakutan termasuk si penodong tadi. Padahal kedua temannya itu tidak tau sama sekali perihal kenapa satu orang temannya itu tiba-tiba lari ketakutan. Entahlah mungkin keduanya itu mengira bahwa dia melihat aparat keamanan lagi patroli didaerah saya atau mungkin ada perasaan lain yang membuat mereka khawatir akan keselamatannya, akhirnya keduanyapun ikut ambil langkah seribu meninggalkan rumah saya. Padahal selidik punya selidik ternyata satu preman yang lari ketakutan sambil teriak-teriak itu bukan karena takut sama aparat keamanan atau takut pada amukan masyarakat dilingkungan rumah saya. Seorang preman kekar itu justru takut sama kecoa dirumah saya yang masuk menyusup kedalam bajunya yang sudah 1tahun tidak dicuci. Entahlah mungkin si preman mengira kalo itu adalah jin penunggu rumah saya sehingga dia lari terbirit-birit ketakutan. Contoh fiktif diatas adalah merupakan sebuah contoh kecil bahwa semua makhluk dialam semesta ini diciptakan memang untuk saling melengkapi antar kekurangan makhluk yang satu dengan makhluk yang lainnya. Dan tidak ada satu makhlukpun ciptaan Allah SWT yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Semuanya pasti bermanfaat. Hanya saja keterbatasan akal kitalah yang kadang kita merasa tidak membutuhkan suatu ciptaan Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita berdayakan semua ciptaanNya di alam semesta ini dengan sebaik-baiknya. Yakni dengan merawat dengan melestarikannya. Semata karena itulah memang amanah yang sedang kita emban didunia ini sebagai seorang khalifah. Wallahu ‘Alam..

Senin, 08 Maret 2010

Mentafakkuri Peradaban Lebah


Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia (68)
kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.(69)

Alhamdulillahirabbil 'alamin.. Saat membuat oret-oretan ini saya masih diberi amanah oleh Allah, berupa kesehatan lahir batin yang benar-benar harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Karena kesehatan yang telah Allah berikan ini harus saya pertanggung jawabkan diakhirat kelak, untuk apa saja saya gunakan kesehatan saya? 

Mudah-mudahan dengan mengawali segala aktifitas dengan rasa syukur ini, kita senantiasa diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah untuk selalu berjalan lurus di atas rel Islam. Sehingga kita dimasukkan olehNya kedalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa (Al-Muttaqien), dan suatu saat nanti kita akan mengakhiri hidup didunia ini dalam keadaan Muslim. 

Sebagaimana yang di perintahkan oleh Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam." (QS. Ali-Imran: 102) 


Perintah Allah dalam Al-Quran diatas sudah jelas dan gamblang sekali. Menurut saya tidak perlu kita mentafsirinya lagi, bahwa jika kita benar-benar mengaku orang-orang yang beriman, maka hendaklah kita selalu takut kepadaNya, dengan menjalani segala perintah-perintahNya serta menjauhi segala laranganNya hingga ajal menjemput hidup kita. 

Lalu bagaimana seharusnya kita beriman dan bertaqwa yang benar sesuai ajaran Islam? Terkait hal ini banyak sekali ayat Al-Quran dan Hadits-Hadits Nabi yang bisa kita jadikan pegangan. Selain itu ada juga Ijtihad para Ulama sebagawai pewaris para Nabi. Mudah sekali sebenarnya ajaran Islam ini. Bahkan kehidupan alam sekitar kitapun (jika kita benar-benar mau mentafakkuri sejenak atas penciptaannya) ternyata semuanya terdapat banyak hikmah yang bisa kita ambil sebagai bahan instrospeksi diri terhadap pola kehidupan kita dalam menjalani kehidupan ini. 

Salah satu contohnya adalah Lebah. Sekalipun dia tidak punya akal. Akan tetapi lebah menurut saya adalah mahkluk ciptaan Allah yang amat mulia. Sehingga dalam Al-Quran pun Allah membuat satu Surat yang benama Lebah (An-Nahl) pada urutan surat ke 16. Dalam surah An-Nahl ini saya sangat terkesima ketika bacaan saya sampai pada ayat ke 68 dan 69. Sejenak bacaan saya terhenti disini sambil mengingat-ingat "tingkah laku" kawanan lebah dalam kesehariannya, baik lebah itu berpisah dari kawanan atau berkumpul disarangnya. 

Tidak begitu sulit bagi saya untuk membayangkan pola hidup keluarga lebah. Karena dulu, sewaktu saya masih kecil Kakek saya pernah beternak lebah, dimana sarangnya terbuat dari pohon siwalan dengan diambil bagian tengahnya sehingga menyerupai bentuk Kendang jaipongan. Lobang kedua sisinya kemudian ditutup dengan kayu dengan diberi lobang kecil buat pintu keluar masuknya lebah. 

Dalam kesehariannya, gerombolan lebah yang keluar dari rumahnya itu (rumah yang dibuatkan oleh kakek saya) tidak ada satupun yang saya jumpai dari mereka hinggap di tempat-tempat yang kotor. Pasti hinggapnya ditempat-tempat yang bersih, entah diatas bunga yang baru mekar atau diatas cangkir yang ada sisa-sisa kopi yang diminum kakek saya. 

Luar biasa.... Mereka benar-benar taat terhadap insting yang diberikan Allah dalam kalimat "kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)", pada ayat ke 69. Tidak pernah lebah memakan dan meminum sesuatu yang kotor dan najis secara naluri kemanusiaan. 

Alhasil kita pun bisa menyaksikan sendiri, dari makanan dan minuman yang mereka konsumsi tercipatalah sebuah peradaban yang begitu luar biasa. Disetiap pintu masuk sarang lebah, pasti pintunya bersegi 6. Hal ini menurut saya mungkin merupakan prinsip hidup sekawanan lebah untuk selalu mentaati rukun iman yang 6. Wallahu a'lam. 

Selain itu kerjasama mereka begitu profesional dalam membagi tugas dan jabatan. Tidak ada lebah yang berebutan jabatan disitu. Semuanya sama-sama menerima terhadap keputusan sang raja, dibagian manapun dia di posisikan. Entah sebagai pencari makanan ataupun dibagian produksi madu. Akibat dari hasil kerjasama yang solid ini, lebahpun menghasilkan sebuah produk minuman yang begitu bermanfaat bagi manusia. Rasanya manis dan menyehatkan. Beda dengan jamu buatan manusia, Pahit, kecut, ada efek samping dan semacamnya. 

Begitu luar biasanya tatanan peradaban lebah ini. Dalam ayat 69 Allah menegaskan, bahwa tanda-tanda kebesaran Allah ini hanya dikhususkan bagi manusia yang mau berfikir. Untuk itu, melalui oretan ini. Marilah sejenak kita berfikir. Bagaimana seandainya dalam hidup kita dibiasakan makan dan minum dengan makanan dan minuman yang baik serta halal. Tidak makan dan minum yang diharamkan. Bukankah telah banyak dalam Al-quran yang menjelaskan tentang makanan dan minuman yang haram. Kenapa sejenak kita tidak mau patuh terhadap perintah Allah sebagaimana lebah itu. Mengapa selama ini hati kita masih belum terbuka, untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat tadi. Padahal Allah sangat berhak mengatur kita, karena kita ini adalah cipataannya. 

Untuk itu. Marilah kita bersama-sama masuk kedalam golongan orang-orang yang berfikir, yakni dengan mentafakkuri Surah An-Nahl: 68-69 diatas tadi. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.. 

Note: Saya sangat menunggu saran dan kritikan dari para pembaca blog ini, demi perbaikan tulisan-tulisan saya berikutnya. Terimakasih.