Jumat, 10 Desember 2010

Hijriah 1432 - Kemanakah Hijrah Kita?

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 Desember 2010 umat Muslim diseluruh dunia merayakan pergantian tahun baru Hijriah 1 Muharram 1432. Pada usianya yang ke 1432 ini, tahun Hijriah yang nota bene merupakan awal permulaannya Nabi Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Hijrah dari suatu daerah yang penuh dengan intimidasi dan pemboikotan oleh kafir Quraisy kesebuah kota yang begitu mendambakan kedatangan Islam lewat Muhammad bernama Yatsrib yang kini menjadi Madinah. Atau lebih tepatnya Hijrah dari sesuatu yang mudharat kepada sesuatu yang banyak mendapatkan manfaat. Pada usianya kini tahun Hijriah seolah-olah justru menemukan kenyataan sebaliknya. 

Secara kasat mata, umat Muslim diseluruh dunia kini dihadapkan pada sebuah kenyataan yang amat memprihatinkan. Tidak bisa lagi diterka langkah hirjahnya. Entah hijrah dari yang mudarat menuju yang manfaat atau sebaliknya; hijrah dari hal yang bermanfaat menuju yang mudarat? Wallahu a'lam, hanya Allah yang tahu.

Ambillah sebuah contoh di beberapa daerah di tanah air, sebagian tokoh kiai / ulama yang dulunya memimpin sebuah pesantren terjun kedunia politik lalu terjerat kasus korupsi atau perselingkuhan. Padahal awalnya masyarakat begitu banyak berharap dengan mempimpinnya kiai/ulama terhadap seuatu daerah atau negara akan menjadikan rakyatnya menjadi sejahtera dan makmur. Seperti pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz misalnya. 

Akan tetapi kenyataan yang harus dihadapi rakyat adalah sebaliknya. Rakyat masih sengsara dan Ulama yang politikus terjerat dengan berbagai macam kasus kriminal. Sementara dilain kasus. Baru-baru ini terjadi seorang kiai disebuah pondok pesantren mencabuli beberapa santriwatinya sendiri bahkan ada yang hingga hamil beberapa bulan.

Dengan demikian kepercayaan masyarakat kepada para kiai atau ulama yang semestinya menjadi panutan masyarakat baik dalam beribadah maupun menjaga etika akhlak kemasyarakatan akhir-akhir ini juga mulai memudar. Masyarakat sudah bingung kepada siapa lagi mereka harus mencari panutan. Kepada siapa lagi mereka akan memasrahkan anak-anaknya untuk diwejangi ilmu-ilmu Al-Quran dan Hadits?

Maka dari itu tidaklah terlalu aneh jika kemudian masyarakat Muslim saat ini banyak yang Hijrah dari yang membawa manfaat kepada yang membawa kepada kemudharatan. Krisis kepercayaan mereka terlanjur menggunung sehingga tidak percaya lagi pada ulama atau kiai dan mencari jalan hidup dengan caranya sendiri mereka anggap sebuah hal yang lebih baik baginya. Tidak peduli lagi apakah itu Haram atau Halal. Bahkan kalau perlu bisa saja mereka tiba-tiba menjadi kiai atau ulama dadakan dengan ajaran-ajarannya yang dadakan dan serampangan pula. 

Memanglah benar bahwa tidak semua ulama dan kiai melakukan hal seperti yang saya ceritakan diatas. Masih banyak kiai dan ulama yang selalu konsisten dan istiqamah dijalanNya. Tapi bukankah status ke kiaian dan keulamaan mereka telah ikut tercoreng oleh tokoh kiai dan ulama yang menyimpang diatas. Ibarat kain putih yang bersih, ketika kain tersebut kena noda sedikit saja maka secara keseluruhan kain putih itu akan menjadi kurang enak dipandang. Sehingga orang pun enggan untuk memakai kain tersebut.

Kini di usia hijriah yang ke 1431 tahun, marilah jadikan momentum 1 Muharram beberapa hari yang lalu sebagai hijrahnya panutan Umat Muslim dari segala sesuatu yang mudharat ke sebuah pola hidup yang penuh dengan berkah dan bermanfaat serta diridai oleh Allah SWT. Saat ini pula adalah waktu yang tepat untuk kembali meraih kepercayaan masyarakat awam kepada kiai dan ulama sebagai warasatul Anbiyaa'. Dan lewat momentum ini juga marilah kita koreksi diri masing-masing, dari mana dan kemanakah langkah hijrah kita selama ini. Semoga Bermanfaat. 

Wallahu A'lam. Mohon koreksinya. 

Jumat, 19 November 2010

Korban Merapi dan Qurban Ibrahim

"Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS Ataubah:24)

Dua hari yang lalu kita di ingatkan kembali kepada sebuah sejarah yang Agung di masa lalu. Sebuah masa dimana Allah memberikan ujian kepada hambanya Nabi Ibrahim dan dan Nabi Ismail. Dimana Nabi Ibrahim yang telah lama mendambakan seorang putra dan ketika putra itu lahir justru diperintahkan oleh Allah di ungsikan ke tanah Makkah. Sebuah daerah padang pasir yang tandus dan tak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Berkat kesabaran Istrinya siti Hajar maka Allah kemudian memberikan air Zam-Zam kepada mereka melalui perantaran malaikat Jibril. 

Belum cukup sampai disitu. Setelah Ismail menginjak masa remaja kembali kesabaran nabi Ibrahim di Uji oleh Allah dengan menyuruhnya menyembelih putra semata wayangnya itu. Meskipun memilukan tapi tak sebersitpun terlintas dibenak Nabi Ibrahim untuk protes atau membantah perintah Agung tersebut. Bahkan menawarnyapun tidak sama sekali. 

Nabi Ibrahim benar-benar menjalankan peritah Allah tersebut setelah terlebih dulu berunding dengan putranya Nabi Ismail. Dengan didasari perasaan sabar, iman dan tawakkal bahwa perintah Allah itu memanglah jalan yang terbaik baginya. Maka berangkatlah Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri. Berbagai macam godaan dan hasutan disepanjang jalan yang diterima Ibrahim untuk tidak melaksanakan perintah Allah itu tetap membuatnya tidak ragu sedikitpun. Malah Nabi Ibrahim justru melawan mereka dengan melemparinya dengan batu. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan "melemapar jumrah" yang dilakukan oleh jamaah haji setiap tahun di kota Makkah. 

Namun ketika eksekusi penyembelihan itu dilakukan Ibrahim menemui kegagalan berkali-kali. Bukan karena pedang Nabi Ibrahim tidak tajam. Justru dari saking tajamnya pedang nabi Ibrahim, pedang tersebut mampu memecahkan bebatuan gunung. Tentu saja semua itu adalah merupakan kehendak Allah untuk mentumpulkan pedangnya diatas leher putranya hingga nabi Ismail selamat dan tergantikan domba yang dibawa oleh Malaikat Jibril.  

Itulah sosok keluarga Nabi Ibrahim. Dari saking beriman dan tawakkalnya kepada Allah. Jangankan harta, bahkan nyawa putra kesayangannyapun rela beliau korbankan. Dan begitulah memang yang telah Allah perintahkan kepada semua umat manusia di muka bumi ini. Janganlah sampai kecintaan kita kepada harta duniawi, istri dan anak sampai mengalahkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan RasulNya. 

Allah berfirman dalam QS Ataubah: 24 sebagai berikut; "Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

* * *

Selain peristiwa Ibrahim dan Ismail. Bulan ini sebagian dari bangsa kita dihadapakan pada sebuah peristiwa bencana alam. Mulai dari Tsunami, Gempa bumi, longsor dan letusan gunung merapi. Korban nyawa dan materi tidak sedikit yang ludes dan lenyap begitu saja dan bahkan banyak yang sudah tidak bisa di fungsikan lagi. 

Hal ini merupakan pertanda sekaligus bukti bahwa materi dunia dan nyawa itu sebenarnya benar-benar tidak ada apa-apanya disisi Allah. Jadi sangat ironis sekali jika selama ini kita begitu mencintai setengah mati harta benda dan keluarga kita dengan mengabaikan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Untuk itulah. Marilah kita korbankan harta benda duniawi kita yang amat kita cintai untuk mencintai Allah SWT. Pergunakanlah harta yang kita perjuangkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bimbing, ajarkan serta wariskanlah kepada keluarga dan anak-anak kita untuk selalu berkorban apa saja. Demi semata meraih Ridha dan CintaNya yang abadi selamanya. InsyaAllah. 

Wallahu a'lam. Mohon Koreksinya.  

Jumat, 05 November 2010

Musibah dan Kasih Sayang Allah

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." ( QS Al-Hadid: 22-23)

Beberapa tahun terakhir ini, hampir disegenap penjuru dunia, terutama tanah air ibu pertiwi Nusantara ini hampir selalu diselimuti rasa berduka setiap saat. Peristiwa musibah demi musibah melanda negeri kita mulai dari Sabang sampai Merauke. Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir, letusan gunung merapi. Kebakaran hutan, rumah, pasar dsb. Kecelakaan transportasi baik di darat, laut maupun udara serta kecelakaan tambang gas Lapindo Brantas yang sejak tahun 2006 lalu hingga saat ini belum juga terselesaikan.

Bisa kiranya kita membayangkan sendiri. Sudah berapa ratus juta jiwa korban nyawa yang tak tertolong? Berapa ratus juta triliun kerugian material yang harus di tanggung? Lalu berapa ratus juta jiwa manusia pasca kejadian itu mengalami gangguan kejiwaan? Betapa dahsyatnya bencana ini hingga ratusan juta nyawa dan materi bisa ludes-amblas dalam waktu yang relatif begitu singkatnya. Dan betapa Gagah Perkasa dan Kuasanya yang menjadikan musibah ini terjadi dengan begitu luar biasanya.

Lalu siapakah yang mendatangkan bencana ini? Kenapa bencana ini harus terjadi pada bangsa ini? Apakah kita telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan? Banyak melakukan kerusakan-kerusakan sehingga ada beberapa unsur alam yang tidak sesuai dan akhirnya rusak? Inilah yang perlu kita renungi dan introspeksi bersama se objektif mungkin.

Sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Hadid:22-23 diatas. Bahwa bencana yang memporak-porandakan sebagian daerah dibelahan bumi ini, termasuk bencana yang melanda sebagian wilayah nusantara akhir-akhir ini adalah Allah SWT yang 'melakukannya'. Allah pula yang telah menewaskan makhluk yang berjumlah jutaan jiwa itu dalam waktu seketika yang teramat singkat.

Oleh karena itu. Karena bencana ini datangnya dari Allah, yakni Tuhan yang Maha Mencipta dan Maha Membinasakan. Maka sekali lagi, pada saat ini juga WAJIB kiranya bagi kita untuk mentadabburi bersama terkait terjadinya musibah ini. Jika kita merujuk QS. Al-Hadid diatas, pasti musibah ini ada kaitannya dengan tingkah laku kita selama ini. Sebuah Tingkah laku yang membuat Allah 'Marah' dan lalu menegur kita dengan 'mengirim' musibah.

Ya. Bencana ini memang perlu dijadikan bahan instrospeksi sejenak terkait tingkah laku kita selama ini. Apakah sudah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya atau tidak. Syukurlah jika dalam muhasabah ini kita merasa bahwa kita memang benar-benar telah banyak melakukan perbuatan dosa atau ingkar kepadaNya. Maka segeralah kita putar haluan kejalan yang benar. Bukalah kembali Al-Quran dan kitab-kitab sunnah yang berisi ajaran dari Rasulullah SAW. Marilah kita pelajari kembali bagaimana seharusnya kita menjalani hidup didunia ini.

Tidak perlu lagi kita bersedih hati dan berduka, karena hal itu tidak akan mengembalikan suasana saat ini kekondisi semula sebelum terjadi bencana. Marilah kita bangkit dan bersyukur karena 'peringatan' ini. Dan yakinlah bahwa musibah ini datang karena Allah sayang terhadap hamba-hambanya.

Allah SWT berfiman dalam Al-Qur'an. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al-Baqarah: 214)

Jadi, sejatinya (secara tidak langsung) musibah yang melanda saudara kita akhir-akhir ini adalah merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada kita. Sekaligus 'tiket' bagi kita untuk menuju surgaNya. Tentu saja dengan catatan, pasca terjadinya musibah tersebut kita harus menyadari dan segera kembali kejalan yang benar - jika selama ini kita memang telah banyak berbuat dosa.

Semoga musibah-musibah yang melanda negeri kita belakangan ini menjadi bahan istrospeksi bagi diri kita bersama untuk kembali kejalan yang benar. Menjadi orang yang benar-benar bertaqwa kepadaNya. Dan semoga para korban bencana yang meninggal dunia dapat diterima segala amal kebaikannya serta dimaafkan segala perbuatan salah dan dosanya. Amin..

Wallahu A'lam.. Mohon Koreksinya.. 

Senin, 25 Oktober 2010

Manusia Kelas Sandal

Kejadian tentang buah rambutan yang ranum nam merah merekah dijual oleh beberapa pedagang buah di sebuah pasar. Rambutan yang dari luarnya saja keliatan manis ini, tepat menempel diatas buah yang berbulu itu terdapat sesuatu yang menyerupai biji kacang polong. Namun bentuknya amat kecil seperti kerikil. Warnanya hijau dan jika dimakan akan terasa pahit dilidah. Biji-bijian kecil itu akan sering ditemui nempel diatas buah rambutan yang merah dan manis.

Beberapa saat kemudian. Datanglah seorang untuk membeli buah rambutan yang merah itu. Setelah tawar menawar lalu terjadilah kesepakatan harga diantara penjual dan pembeli itu; Rp. 10.000,- / Kg. Selama menimbang buah rambutan itu, sipenjual tidak begitu menghiraukan sebuah "biji kacang polong hijau" yang menempel dimasing-masing buah yang masuk timbangan itu. Sekalipun biji itu tampak terlihat. Sipembelipun juga tidak protes akan hal tersebut. Padahal secara logika, "biji kacang polong hijau" itu tentu saja akan mempengaruhi timbangan, walaupun tak seberapa.

Ketika selesai, si penjual memasukkan buah rambutan itu kedalam tas plastik. Si "biji kacang polong hijau" pun juga ikut serta kedalam tas plastik tanpa dihiraukan. Ketika sipembeli menerima tas plastik yang berisi rambutan itu dan membayarnya, lalu kemudian dibawa menuju sebuah mobil mewah miliknya, maka dengan serta merta si "biji kacang polong hijau" pun turut serta menikmati nyamannya naik mobil mewah dengan menempel terus pada buah rambutan yang manis itu.

Begitulah hebatnya si "biji kacang polong hijau" yang selalu nempel pada buah rambutan manis. Kemanapun ia pergi maka biji-biji itu akan ikut serta menemaninya. Padahal secara spesifik tidak ada sama sekali yang istimewa dari biji-bijian itu. Rasanya malah pahit kalau dimakan. Bahkan seandainya dari sekian biji-biji itu dipetik di tiap-tiap buah rambutan yang merah, lalu kemudian dikumpulkan - maka jangankan dijual, dikasih secara cuma-cumapun kita pasti tidak mau.

Sepenggal kejadian diatas, mengingatkan pada sebuah kejadian lain sewaktu saya nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Setiap kali Kiai pengasuh ke mesjid untuk mengimami shalat berjamaah dan ketika Sandal beliau dilepaskan di teras, maka begitu antusiasnya para santri berebutan untuk membalikkan dan merapikan posisi sandal pengasuh itu - agar sewaktu turun dari mesjid nanti beliau gampang memakainya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan sandal santri itu sendiri. Dimana setiap usai shalat jamaah di mesjid, pasti saja ada santri yang kehilangan sandalnya. Entah itu dipinjam atau bahkan diambil sama santri-santri yang lain.

Peristiwa "penghormatan" terhadap sandal Kiai ini bukan hanya terjadi di Pesantren. Diluar pesantrenpun juga demikian. Sandal Kiai ini pasti selalu mendapatkan perlindungan yang istimewa dari masyarakat. Bahkan kadangkala tidak satupun sandal masyarakat berani dekat-dekat apalagi bersentuhan dengan sandal kiai yang dilepaskan diteras rumah maupun langgar. Walaupun, sebagaimana biji hijau rambutan diatas, merek sandal kiai tersebut - secara kualitas pasaran - harganya amatlah murah dari pada sandal-sandal yang dipakai masyarakat. Lalu kenapa "sandal murahan" kiai itu bisa "lebih mulya" statusnya dari pada sandal-sandal yang dipakai masyarakat dan para santri? Jawabannya tentu saja, karena sandal itu menempel pada Seorang Kiai atau Ulama yang ilmunya begitu luas dan kharismatik di mata masyarakat.

Contoh kasus lain semasa Rasulullah SAW. Ada seorang sahabat namanya Ibnu Mas'ud. Beliau setiap harinya selalu berpenampilan rapi, harum dan bersih. Padahal pekerjaannya setiap hari "cuma" sebagai tukang bawa sandal Rasulullah. Ketika ditanya oleh Sahabat yang lain; "Gerangan apakah yang membuatmu selalu rapi, bersih dan harum itu wahai Ibnu Mas'ud?". Ibnu Mas'ud Menjawab; "Ini aku lakukan semata karena menghormat sandalnya Rasulullah". Begitu mulyanya sandal Rasulullah itu sehingga Ibnu Mas'ud pun menghormatinya dengan selalu berpenampilan rapi, bersih dan harum.

Pun demikian halnya ketika melalkukan Isra' Mi'raj. Ketika Rasulullah SAW dan Malaikat Jibril sampai di Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah SAW : "Wahai Rasulullah.. kiranya saya cukup mengatarkan Rasulullah sampai disini saja. Silahkan Nabi melanjutkan perjalanan sendiri menemui Allah SWT."

Rasulullah merasa sanksi dengan pernyataan Malaikat Jibril. Bayangkan sejak dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga sampai di Sidratul Muntaha Rasulullah selalu bersama Jibril sebagai "penunjuk jalan" Beliau. Ketika melihat sesuatu yang tidak dipahami oleh Rasulullah maka Jibrillah yang menjelaskan kepada Rasullah perihal yang dilihatnya itu. Lalu kali ini tiba-tiba malaikat Jibril tidak bisa mendampingi lagi perjalanan Rasulullah "menemui" Allah. Kemudian Rasulullah menjawab: "Wahai Jibril.. tegakah aku ditempat ini meninggalkanmu..." Jibril kembali menjawab: "Wahai Rasulullah, diantara kita ini ada derajad sendiri-sendiri. Derajad saya cuma sampai disini Rasulullah. Sedangkan derajad engkau masih terus keatas..". "Tidak apa-apa wahai jibril, ikutlah denganku..."  Jawab Rasulullah. "Wahai Rasulullah, Jika saya paksakan diri untuk ikut Rasulullah maka satu langkah saja saya ikut maka saya akan terbakar "disana" ya Rasul..." Akhirnya Rasullullah pun "menyerah" dan melanjutkan perjalanannya seorang diri. Yang menarik waktu itu Rasullullah "menemui" panggilan Allah sambil memakai sandal beliau.

Hal ini berbeda kejadiannya, dalam kasus yang hampir sama, ketika nabi Musa "ngotot" hendak menemui Allah. Dibukit Turizinai Nabi Musa menghadap Allah sambil membawa serta Sandalnya. Kemudian diisitulah - tepatnya di Wadil Muqaddas - Nabi Musa ditegur Oleh Allah, "Ikhla' Na'laika yaa Musa.. Fa Innaka bil muqaddasi tugha.." Artinya, "Buka sandalmu itu Musa, karena sesungguhnya di (Wadil) Muqaddash ini adalah tempat yang mulia.."

Sungguh Hebat nian Rasulullah, Nabi Musa tidak boleh menemui Allah dengan mengenakan sandal - walaupun pada akhirnya nabi Musa pingsan karena tidak kuat dengan CahayaNya Allah. Namun Nabi Muhammad justru tidak ditegur oleh Allah ketika Mi'raj "menemui"Nya dengan meninggalkan malaikat Jibril di Sidratul Muntaha.

***

Begitulah manusia. Jika manusia sudah saking mulya derajadnya, maka ia mampu "mengalahkan" derajad kemulyaan Malaikat. Bahkan sandal Rasulullah pun bisa dibilang lebih mulya dari pada Malaikat Jibril. Kenapa? Karena Jibril tidak bisa "menemui" Allah, tapi sandal Rasulullah bisa "bertemu" Allah karena menempel di kaki Rasulullah.

Demikian juga jika manusia saking bejat perilakunya, maka bisa saja ia lebih bejat dari binatang sekalipun. Ambil Contoh tupai yang mencuri biji kelapa, maka dalam aksinya tupai tidak serta merta merusak buah kelapa itu. Melainkan dilubangi kulitnya terlebih dahulu sehalus mungkin, baru kemudian si tumpai ambil isi kelapa itu. Namun akan berbeda kasusnya ketika manusia yang mencuri buah kelapa. Bisa dipastikan bukan kelapanya saja yang dicuri, bahkan sama pohon-pohonnya pun sekalian diembatnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan bagi kita bersama. Kalau sandal Rasulullah - yang tidak melakukan Ibadah sama sekali itu bisa sedemikian mulya derajadnya. Masak manusia semacam kita ini, yang selalu Shalat, Zakat, Puasa bahkan Haji tidak bisa lebih mulya atau paling tidak menyamai derajad sandal Rasululah? Masak kita akan kalah sama sandal kiai yang selalu di tata posisinya oleh para santri ketika sang Kiai naik ke Mesjid? Masak kita kalah "sama biji kacang hijau" yang selalu nebeng timbangan harga dan kenyamaan naik mobil mewah sama rambutan merah yang manis?

Jawabannya; BISA..!! Caranya? "Nebeng" juga sama ulama-ulama. Dekatlah sama mereka. Maka dijamin, sebagaimana Firman Allah dalam Hadits QudsiNya. "Ayyuhassyaabu... Attariku syahwatahu min ajli, anta 'indi ka ba'di malaikati", Artinya, "Wahai pemuda yang mampu mengekang hawa nafsunya karenaku, maka "derajat" kalian adalah sama seperti kebanyakan malaikatku". Dekat dengan para ulama, InsyaAllah dijamin kita bisa menahan dan mengekang hawa nafsu kita. Dan dengan cara itulah Allah menyamakan derajad kita dengan Malaikat.

Jadi. Sesungguhkan kalau dipikir-pikir dengan matang. Kita ini, yang belum begitu banyak punya pengetahuan tentang agama. Sejatinya hanyalah manusia kelas Sandal. Kelas sandal yang tidak akan berarti apa-apa tanpa mencari "tebengan" kaki yang dipunyai oleh Nabi, para Sahabat dan para Ulama'. Untuk itulah mari, (sebagai manusia kelas sandal) mulai saat ini juga carilah "tebengan" yang sekiranya bisa mengangkat derajad kita. Tenju saja sebagaimana sandal biasanya, kita harus ikhlas disuruh bagaimanapun oleh "tebengan" kita. Disuruh shalat, ya Shalat. Disuruh Zakat, ya berzakat. Disuruh puasa ya puasa...

Dari Anas, dia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, "Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi, jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak kena arangnya (percikannya), maka kamu akan terkena asapnya." (HR. Abu Dawud).

Wallahu A'lam. Mohon Koreksinya.. Terimakasih..