Sabtu, 03 April 2010

Hijaukan Lingkungan Kita Sebelum Terlambat (Bagian 2)

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. Attakaatsur: 1-8) Sebaigaimana telah dijelaskan pada tulisan bagian yang lalu, bahwa pola hidup masyarakat kita saat ini cenderung konsumtif terhadap segala sesuatu yang bersifat baru, mewah, canggih, keren dan lain sebagainya. Padahal entah disadari atau tidak prilaku konsumtif itu justru akan membahayakan terhadap lingkungan sekitarnya. Dan tidak menutup kemungkinan hal tersebut juga akan mengancam terhadap keberlangsungan hidup generasi kita yang akan datang. Surat At-Takaatsur diatas kiranya bisa kita jadikan sebagai bahan renungan bersama. Bahwa dalam ayat ini Allah mewanti-wanti kita sampai tiga kali dalam ayat 3,4,5 agar hendaknya manusia hidup dimuka bumi ini tidak (atau paling tepatnya -menghindari diri) bermegah-megahan sehingga hal itu bisa melalaikannya dari iman. Tidak sedikit dari mereka yang tahu bahwa dengan hidup glamor itu jusrtu akan mengancam perubahan iklim lingkungan kita. Mereka sadar dan mereka tahu. Karena pada dasarnya mereka yang cenderung senang hidup bermewah-mewahan itu adalah justru mereka yang mempunyai pengetahuan tinggi. Tapi karena mungkin nafsu untuk menguasai dunia sudah terlampau menguasai hati dan pikirannya, maka mereka hanya sebatas tahu dan sadar saja. Tidak ada langkah kongkrit untuk meng iyakan perintah Allah dalam Ayat 5 di surat At-Takaatsur tersebut. Pada tulisan yang lalu penulis hanya membahas sedikit seputar langkah kongkrit yang hendaknya dimulai dari diri kita masing-masing. Mulai rumah, kantor, gedung dan bangunan-bangunan lainnya. Sedangkan pada tulisan bagian kedua ini, penulis akan mengajak pembaca sekalian untuk ikut juga berpartisipasi menghijaukan lingkugan kita selama kita berada diluar rumah, kantor dan diluar gedung-gedung lainya. Aktifitas manusia tentu saja tidak melulu dilakukan di dalam ruangan rumah, kantor dan semacamnya. Melainkan manusia juga merasa perlu beraktifitas diluar, seperti belanja, olahraga, berwisata dan lain sebagainya. Selama berada di luar inilah pola hidup manusia kadang kala tetap tidak ingin berpisah dengan kesan kehidupan yang megah dan serba mewah lainnya. Ini jugalah yang justru entah di sadari atau tidak dapat menyebabkan kerusakan lingkungan kita. Beberapa contoh yang akan penulis sebutkan di bawah ini mungkin bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita bersama untuk merubah pola hidup kita menjadi sederhana ketika sedang beraktifitas diluar. Transportasi Pergi ke suatu tempat, entah ke kantor, objek wisata, pasar, pusat perbelanjaan dan semacamnya biasanya kita membutuhkan sarana transportasi agar supaya cepat sampai di tempat tujuan. Sarana transportasi sebagaimana kita ketahui saat ini sangat beragam. Mulai dari kendaraan mobil pribadi, taksi, angkot, motor pribadi, ojek dan sebagainya tergantung kemampuan dan kemauan kita untuk menggunakan sarana transportasi yang mana. Ironisnya dalam menggunakan alat transportasi ini, sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, masyarakat kita masih banyak yang gengsi-gengsian dan ingin tampil wah. Hal ini bisa kita lihat dari menjamurnya kendaraan-kendaraan pribadi nan mewah desetiap jalanan saat ini. Padahal semakin banyak kendaraan bermotor maka tentu saja akan semakin banyak karbon yang terlepas ke udara. Tentu saja hal ini akan semakin memperburuk keadaan iklim lingkungan kita. Maka dari sinilah kemudian perlu kiranya kita mencermati bersama langkah-langkah yang harus kita lakukan untuk mencegah Emisi Karbon dari sarana transportasi ini. Misalnya dengan menggunakan sarana transportasi yang ada secara bersama-sama. Menggunakan satu mobil untuk bersama-sama dengan teman-teman kita maupun keluarga, bukannya malah satu mobil satu orang. Selain itu memanfaatkan sarana transportasi angkutan umum juga merupakan salah satu kebijan bagus untuk menekan emisi karbon. Jika tujuan kita tidak terlalu jauh ada baiknya jika kita melakukannya dengan jalan kaki saja. Atau kalau dirasa cukup jauh kita bisa juga menggunakan sepeda. Dimana sepeda sesungguhnya merupakan sarana trasnportasi yang bebas karbon atau polusi udara. Selain menyehatkan badan, bersepeda juga merupakan sarana transportasi yang ramah lingkungan dari jaman dahulu kala. Dan satu hal yang terpenting yakni bersepeda selama 30 menit setiap hari jika dilakukan 5 kali dalam seminnggu dapat mengurangi resiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan diabetes(www.active-transportation.org). Jadi tidak perlu gengsi bersepeda, toh ini demi menjaga lingkungan kita dan badan kita agar sehat dan bugar. Demikian juga halnya dengan berjalan kaki. Berjalan kaki diakui atau tidak telah terbukti (bahkan tidak dapat terbantahkan lagi) sangat baik bagi kesehatan kita. Bisa kita lihat pagelaran acara jalan sehat dimana-mana yang akhir-akhir ini sudah semakin marak. Bahkan tidak tanggung-tanggung acara jalan sehat ini kadang (sering) didukung oleh pemerintah setempat. Jika masih terpaksa tidak bisa menerapka kedua hal diatas, yakni jalan kaki atau bersepeda. Misalnya dengan alasan jarak yang ditempuh sangatlah jauh. Maka setidak-tidaknya jika terpaksa harus menggunakan kendaraan bermotor pilihlah kendaraan bermotor yang hemat BBM. Saat ini di berbagai media telah banyak di kampanyekan mengenai Ecodriving yang mengajarkan kita untuk menghemat BBM sekaligus emisi gas rumah kaca dan tingkat kecelakaan. Adapun teknik mengemudikan kendaraan yang di rekomendasikan Ecodriving adalah sebagai berikut. 1. Menjaga kecepatan agar konstan. 2. Jangan buang waktu untuk pindah ke gigi yang lebih tinggi 3. Jaga pada posisi gigi tinggi dan RPM rendah 4. Antisipasi kondisi lalu lintas dan hindari kemacetan 5. Kurangi kecepatan perlahan-lahan jika ingin melambat atau berhenti. Dengan demikian jika kita cerdas mengemudi kendaraan bermotor maka hal ini akan dapat menghemat BBM antara 5-10%. Belanja Ramah Lingkungan Berbelanja merupakan kegiatan rutin kita yang hampir setiap hari harus dilakukan. Dalam berbelanja, entah belanja apapun, hampir tidak satupun dari barang belanjaan kita biasanya akan mendapatkan bonus berupa plastik. Dimana plastik ini dimaksudkan sebagai tempat bawaan barang yang kita beli dari toko tersebut. Sebelumnya perlu kita ketahui bersama bahwa bahan baku tas plastik tersebut adalah minyak bumi dan gas alam, dimana dua benda tersebut adalah merupakan penyebab emisi gas rumah kaca. Selain itu benda plastik ini merupakan benda yang sulit di uraikan bahkan hingga ratusan tahun. Sehingga tidak aneh jika sampah plastik ini berserakan dimana-mana. Berdasarkan hal ini maka hendaknya mulai sekarang kita membiasakan membawa tas belanjaan sendiri dari rumah kita masing-masing. Tolaklah dengan halus dan berikan penjelasan kepada kasir atau pelayan di tempat kita melakukan belanja jika mereka bersikukuh memberikan kita tas plastik. Dengan cara seperti ini, sedikit demi sedikit kebutuhan produksi tas plastik akan semakin menurun. Dan otomatis dengan cara ini pula pencemaran lingkungan dan perubahan iklim bisa sedikit lebih berkurang. Diluar negeri, khususnya negara Irlandia mengenakan pajak bagi pemakai kantung plastik ini. Sementara di China pemerintah melarang setiap toko memberikan kantung plastik gratis dan menganjurkan pembeli untuk membawa tas kain atau keranjang sendiri. Kapan kita menyusul? Sekarang juga kita harus menyusul. Mari mulai saat ini tinggalkan pola hidup bermewah-mewahan. Ingatlah bahwa resiko ini amatlah besar baik bagi lingkungan kita maupun generasi kita yang akan datang. Sebelum terlambat, Mari mulai kita dari diri kita masing-masing..(Bersambung..)

Jumat, 02 April 2010

Hijaukan Lingkungan Kita Sebelum Terlambat (Bagian 1)

Pada zaman modern saat ini secara kasat mata perubahan-perubahan di dalam segala lini kehidupan telah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi kita. Mulai dari segi sarana infrastruktur pembangunan untuk umum maupun sarana-sarana infrastruktur kehidupan pribadi. Selain itu, berbagai macam peralatan-peralatan canggih pun dewasa ini juga sudah bukan merupakan pemandangan yang aneh. Hal inilah yang kemudian menjadikan masyarakat kita saat ini begitu antusias untuk tidak "mentertinggalkan" dirinya dalam kehidupan modern ini. Masyarakat saat ini menjadi begitu konsumtif terhadap segala sesuatu yang bersifat canggih, effisien dan serba instant. Sehingga tanpa terasa prilaku-prilaku konsumtif ini menjebak mereka dalam sebuah pola hidup yang cenderung boros, bermegah-megahan dan bermewah-mewahan. Dan tanpa mereka sadari pula pola hidup yang konsumtif ini justru membuat kehidupan generasi kita yang akan datang berakibat fatal. Sebutlah sebuah contoh dalam penggunaan energi berbahan fosil serta penggundulan atau kebakaran hutan yang menyebabkan buangan CO2 ke atmosfer naik drastis. Gas inilah yang merupakan unsur pembentuk rumah kaca di atmosfer memantulkan kembali panas yang dilepas oleh permukaan bumi setelah menerima cahaya matahari. Tentu saja, semakin tinggi konsentrasi CO2 maka suhu di permukaan bumi ini pun akan semakin naik. Sebagaimana kita saksikan selama ini, baik di sekitar kita maupun ditempat-tempat lain, yakni perubahan suhu yang tiap hari semakin naik. Selain itu permukaan air laut di pesisir pantai dari tahun ketahun semakin mengalami kenaikan yang cukup drastis. Sehingga dimungkinkan hal ini akan memicu migrasi besar-besaran masyarakat pesisir ke daratan yang lebih tinggi. Sementara itu, didaratan yang tinggi masyarakat saat ini banyak yang merasa kesulitan mendapatkan air tawar karena kekeringan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan tanaman-tanaman mereka pun banyak yang rusak dan gagal panen. Sebaliknya, jika musim penghujan datang maka curah hujan pun akan turun dengan sangat drastis pula, sehingga memicu datangnya banjir dimana-mana, longsor dan lain sebagainya. IPCC memperkirakan tinggi permukaan air laut telah naik rata-rata 2.5 mm pertahun. Bila ini terus terjadi, maka pada tahun 2030, Indonesia bisa kehilangan sekitar 2000 pulau. Ini bukanlah cerita fiksi melainkan fakta. Pada tahun 2007, IPPC, yakni sebuah organsisai perkumpulan ilmuan di seluruh dunia menyatakan bahwa perubahan iklim ini adalah nyata. Untuk itulah IPPC kemudian mensosialisasikan agar hendaknya masyarakat di seluruh dunia mulai saat ini juga melakukan pencegahan-pencegahan sejak dini. Begitulah sekilas yang penulis ketahui tentang betapa seriusnya dampak perubahan iklim terhadap linkungan kita. Laju perubahan iklim ini tentu akan sangat berbahaya bagi generasi anak cucu kita di masa mendatang. Untuk itu, seyogyanya kita memulai pencegahan ini sedini mungkin. Yakni dengan mengubah pola hidup bermewah-mewahan dengan pola hidup yang sederhana dan tidak boros energi. Kesadaran dari diri masing-masing masyarakat saat ini merupakan jalan satu-satunya untuk mencegah perubahan iklim ini. Mulai Dari Rumah dan Kantor Kita Rumah maupun bangunan-bangunan lain yang sejenisnya adalah merupakan sumber emisi gas rumah kaca yang cukup signifikan. Bangunan (selain penggunaan listrik) rata menyumbang 7.5% emisi gas rumah kaca. Jika diakumulasikan dengan penggunaan listrik maka bisa di perkirakan angkan tadi akan naik menjadi 35% dari total emisi global. Sebagaimana di ungkap UNEP Sustaina ble construction and Building Initiative: Bengunan mengkonsumsi sekitar 30-40% dari total energi global. Hal diatas tentu saja karena disebabkan oleh penggunaan energi listrik di rumah-rumah maupun bangunan-bangunan besar lainnya saat ini sangat tinggi. Seperti misalkan penggunaan AC, Lemari ES, Televisi, Komputer dan peralatan-peralatan berbasis listrik lainnya. Oleh karena itu kiranya akan sangat bijak jika dalam menggunakan segala peralatan yang membutuhkan energi listrik itu kita tekan dengan se efisien mungkin. Dengan paling tidak mengkonsumsi energi listrik dalam waktu yang cukup singkat. Sebagai contoh misalnya dengan menggunakan peralatan listrik yang hemat energi. Jika selama ini kita menggunakan bohlamp (lampu pijar) maka segeralah ganti bohlamp tersebut dengan lampu hemat energi serperti lampu Fluorescent, masyarakat kita biasanya mengenal nama lampu ini dengan sebutan lampu neon. Memang lampu Fluorescent (neon) terbilang lebih mahal dari pada bohlamp, tapi yang perlu kita perhatikan bersama adalah, hal ini semata demi menghemat penggunaan listrik untuk menekan naiknya konsumsi energi global rumah kita. Selain itu nyala lampu neon ini sinarnya akan lebih terang dari pada sinar bohlamp yang cenderung redup. Selain mengganti lampu bohlamp, di rumah kita ataupun di gedung perkantoran saat ini sudah tidak asing lagi dengan namanya perangkat komputer yang memakai monitor, LCD dan TV. Dari peralatan-peralatan ini, suatu hal yang sering kita abaikan adalah membiarkan perangkat-perangkat tersebut dalam keadaan Standbay Mode ketika kita sedang tidak menggunakannya. Padahal tanpa kita sadari dalam keadaan standbay mod peralatan elektronik tersebut tidak mati, melainkan nyala, dimana hal ini secara otomatis juga akan mengkonsumsi energi listrik. Untuk itu hendaknya kita membiasakan mematikan standbay mode tersebut dari segala peralatan elektronik rumah dan kantor kita jika perangkat tersebut tidak sedang kita gunakan. Memulai dari suatu hal yang kecil-kecil memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk di biasakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi jika kita benar-benar menyadari akan bahaya laten perubahan iklim saat ini, maka mau tidak mau kita harus ikut berpartisipasi demi menyelamatkan dunia ini dari kerusakan global dan demi keselamatan generasi kita yang akan datang. Ketika suhu pada siang hari naik hingga beberapa derajat maka panaspun semakin tidak bisa kita hindari. Dalam menghindari suhu yang panas ini sebagian besar dari kita biasanya menggunakan jasa AC untuk menurunkah suhu ruangan yang kita tempati. Dalam keadaan dingin kita justru kadang tidak menurunkan suhu AC tersebut. Malah membiarkannya lalu kemudian kita mengenekan pakaian-pakaian yang tebal semacan jas dan lain sebagainya. Ini menurut saya justru perbuatan yang mubadzir. Memang saat itu kita akan merasakan nyaman bekerja sekian jam dalam ruangan tersebut. Akan tetapi disadari atau tidak ternyata jasa AC tersebut juga membutuhkan energi listrik yang tidak bisa di bilang rendah. Semakin besar suhu AC kita naikkan maka semakin besar pula energi listrik yang di perlukan. Padahal suhu udara yang di perlukan agar manusia bisa beraktifitas dengan nyaman adalah berkisar antara 24-26 derajat C. Jadi pada dasarnya pemakaain AC dalam ruangan tersebut tidak begitu perlu kita gunakan karena suhu udara di negara tropis seperti negara kita Indonesia ini berkisar antara 25-27 derajad C. Memanfaatkan Matahari, Udara dan Tanam-Tanaman Hias Jika kita benar-benar ingin bijak mensikapi masalah suhu ini, maka ada beberapa hal yang menurut penulis akan mampu membantu meringankan kebutuhan kita terhadap energi listrik ini. Diantaranya adalah Matahari dan Udara. Didaerah tropis seperti Indonesia memiliki cahaya alami melimpah karena matahari bersinar terus sepanjanng tahun. Selain itu di negara-negara maju integritas pencahaayaan alami pada gedung komersial mampu menurunkan biaya energi hingga 1/3nya. Dengan ini penulis beranggapan tidak ada salahnya jika kita juga meniru hal tersebut. Dengan membiarkan cahaya matahari masuk ke ruangan-ruangan kita berikut juga udara-udara segar dari alam sekitar akan mampu mengurangi bahkan bisa mengganti penggunaan AC yang memerlukan energi tidak sedikit ini. Agar rumah atau gedung-gedung kantor kita mudah menyerap udara segar maka ada baiknya jika pekarangan, halaman dan bahkan tembok kita hijaukan, yanki dengan cara menanaminya dengan tananaman-tanaman hias dan rumput-rumputan misalnya. Sedangkan untuk tembok bisa menanaminya dengan tanaman-tanaman hias yang menjalar. Bijak Menggunakan Kertas dan Air Selain yang telah penulis sebutkan diatas tentunya masih banyak sikap prilaku hidup boros yang selama ini jarang kita sadari. Termasuk didalamnya adalah penggunaan kertas. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa bahan baku utama kertas adalah kayu. Jadi jelas, semakin banyak kertas kita gunakan maka akan semakin banyak pula kayu yang akan ditebang. Sedangkan ancaman dari penebangan hutan ini akan berdampak serius terhadap pembuangan C02 ke atmosfer sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya. Untuk itu menghemat kertas hendaknya juga sudah kita biasakan mulai dari sekarang. Gunakan kertas seperlunya dan jika tidak terlalu penting (hanya sekedar untuk orat-oretan dan sebagainya) kita bisa menggunakan kertas bekas yang sudah tidak terpakai dan masih bisa fungsikan. Selain menghemat kertas, menghemat air pun mulai saat ini rupanya sudah merupakan pola hidup baru yang (mau tidak mau) harus kita biasakan. Dalam hal ini penulis juga telah memaparkan sebelumnya bahwa seiring dengan naiknya suhu di permukaan bumi, masalah kekeringan diberbagai tempat merupakan masalah yang sangat serius dan tidak bisa di anggap remeh. Dimana bahan-bahan pokok makanan banyak yang mengering bahkan gagal panen secara total. Jika ini dibiarkan terus menerus, maka lonjakan harga kebutuhan bahan pokokpun merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindarkan. Untuk itulah perlu kiranya mulai saat ini kita juga hendaknya menghemat persediaan air bersih kita. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghemat air bersih ini. Dalam hal mandi misalnya, kita bisa menggunakan pancuran, tidak berendam di air, dan lain sebagainya. Apa saja yang penulis paparkan dalam tulisan singkat ini tentu saja masih jauh dari sempurna terkait berbagai hal yang harus kita lakukan dalam rangka mencegah perubahan iklim ini. Akan tetapi jika kita biasakan untuk melakukannya, maka besar kemungkinan, laju perubahan iklim yang membahayakan generasi kita ini akan mengalami penurunan yang sangat signifikan. Dengan catatan kita harus melakukan hal ini secara bersama-sama, Continiue dan stimulan. Marilah mulai saat ini juga, dari diri kita masing-masing. Jadikan lingkungan kita lingkungan yang hijau, bersih dan sehat dalam rangka mengatisipasi laju perubahan iklim dunia. (bersambung..)

Minggu, 28 Maret 2010

Instrument Itu Juga Punya Hak

Setiap manusia pada dasarnya pasti akan membutuhkan instrument sebagai sarana penunjang untuk membantu kelangsungan hidup mereka. Instrument-Instrument yang dibutuhkan tersebut berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, tergantung kapasitas dan kemampuan serta kebutuhan manusia tersebut untuk menggunakan dan memanfaatkannnya. Sebenarnya, jauh sebelum merasa butuh terhadap instrument-instrument ini, manusia telah diberikan instrument standard dasar oleh Allah sang pencipta yang dikenal sebagai panca indra. Diawal masa pertumbuhan manusia tidak akan merasa butuh sedikitpun terhadap instrument-instrumen lainnya selain instrument standar itu. Mereka berupaya dengan tekun dan ulet untuk memanfaatkan panca indra tersebut sampai mereka benar-benar mahir menggunakannya. Mata sampai bisa digunakan untuk melihat sesuatu dengan benar. Hidung untuk mencium bau. Lidah untuk merasakan enak tidaknya rasa makanan dan minuman. Telinga untuk mendengarkan suara dan tangan serta kaki untuk meraba sesuatu yang keras, lembut, basah, kering dan lain sebagainya. Itulah fungsi dasar panca indra. Fungsi standard instrumen manusia. Seiring dengan bertambahnya usia, tentu saja panca indra manusia ini akan semakin peka terhadap segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Kejadian-kejadian tersebut akan terekam oleh otak lalu timbullah sebuah perasaan untuk melakukan sesuatu diluar kebiasaannya selama ini. Tapi naif, instrument-instrument standard yang dimiliki tersebut kadangkala sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk membantu menyeleseaikan keinginannya. Kalaupun dipaksa untuk difungsikan, tapi hasilnya jauh dari yang diharapkan. Disinilah kemudian manusia merasa butuh terhadap instrument lainnya (selain dari pada instrument standart tersebut). Kita ambil contoh, ketika merasa haus maka keinginan yang pertama kali muncul di benak manusia adalah ingin selesai dari masalah haus tersebut, mereka kemudian mencari solusi dengan panca indra yang dimilikinya. Lalu akhirnya ditemukan bahwa solusinya adalah minum air putih. Pertama mereka akan mencari air putih itu sampai ditemukan. Ketika sudah ditemukan. Maka barulah air tersebut diminum. Nah, pada saat mau minum inilah manusia merasakan pentingnya sebuah instrument lain selain panca indra yang mereka miliki. Memang bisa menggunakan tangan dengan cara men"cebok" atau menadahi dengan tangan lalu diminum. Tapi tentu saja air yang dimininumnya tersebut tidak akan sampai satu tegukan dan tidak bisa langsung menuntaskan rasa haus dan dahaganya. Selain itu memang bisa juga dengan cara mulut menganga dan menadahi langsung air yang mengalir diatasnya. Tapi sekali lagi, cara seperti ini tidak akan mencapai hasil maksimal. Malah kalau tidak hati-hati bisa membuat tersedak terus batuk-batuk. Rasa haus memang sudah hilang. Tapi ada efek samping batuk yang harus ditangggung. Oleh karena itu, maka dibutuhkanlah sebuah instrument berupa wadah kecil seukuran bibir mulut dan tidak bocor dibawahnya. Lalu kemudian ditadahkanlah wadah tersebut di bawah air putih dan barulah di minum. Contoh sederhana diatas merupakan sebuah keniscayaan. Bahwa untuk melangsungkan kehidupannya mansuia memang butuh terhadap instrument lain selain panca indra yang telah di berikan Allah. SWT. Karena hal ini sudah merupakan fitrah, maka manusiapun saling berupaya untuk melengkapi instrument-instrument yang masih belum dimilikinya agar supaya mereka bisa menjalani hidupnya dengan mudah dan gampang. Tentu saja dalam rangka melengkapi instrument-instrument ini manusia akan menempuh berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan tenaga dan pikirannya. Disisi lain, ada beberapa manusia yang membantu menyediakan instrument bagi manusia lainnya yang membutuhkan. Dimana hal ini mereka lakukan juga dalam rangka mendapatkan instrument yang mereka inginkan. Setelah berbagai macam instrumen itu mereka dapatkan. Maka inisiatif selanjutnya adalah mereka merawat instrument-instrument tersebut untuk dipergunakan dilain kesempatan. Mereka tidak ingin instrumen yang sangat membantu bagi kemudahan hidupnya itu rusak atau tidak berfungsi, apalagi hilang. Untuk itu maka mereka akan selalu menjaga instrument itu. Hal ini sangatlah penting. Bahkan menurut saya harus kita lakukan. Bukan hanya instrument lainnya. Panca indrapun sudah sepatutnya kita rawat dan jaga dengan sebaik mungkin. Jangan sampai panca indra yang di anugerahkan Tuhan ini tidak berfungsi lagi karena kecerobohan kita. Demikian juga halnya dengan instrumen lainnya, yang telah susah payah kita dapatkan itu selayaknya kita rawat dengan sebaik mungkin. Kalau perlu kita manjakan instrument-istrument itu. Kenapa? Karena (diakui atau tidak) instrument-instrument tersebut telah banyak membantu memudahkan urusan kita. Selain itu pula, Instrument ini juga merupakan titipan (amanah) Allah yang harus kita jaga dan rawat. Jangan sampai instrumet ini di abaikan hak-haknya. *** Beberapa bulan terakhir ini, saya begitu banyak mendapat tanggapan mengenai motor yang saya beli dengan hasil keringat saya sendiri. Bukan karena saya mengabaikan hak-hak motor saya untuk dirawat, di cuci, dibersihkan, diservice secara berkala dan lain sebagainya. Justru karena hampir setiap hari saya selalu mengelap dan membersihkan motor saya dengan sangat uletnya. Hampir tidak ada debu yang menempel di motor saya seandainya motor saya ini tidak saya jalankan. Dicuci 3 minggu sekali dengan memakan waktu kurang lebih 2 jam hanya untuk satu ekor motor saya. Selain itu saya juga menservice motor buatan Jepang ini tiap bulan sekali. Hasilnya tentu saja pembaca bisa menebak sendiri. Motor saya masih kelihatan baru, walaupun umurnya sudah 1.5 tahun dari semenjak motor ini saya beli. Tindakan saya diatas akhir-akhir ini menuai komentar-komentar yang beragam. Baik dari tetangga saya, Teman sekantor, Bahkan orang mekanik yang menservice motor saya pun juga tak ketinggalan ikut komentar. Ada yang berkomentar positif yakni dengan memuji saya yang begitu peduli merawat motor saya dan ada pula komentar yang cenderung mencibir dan meremehkan. Komentar-komentar positif saya kira tidak perlu saya bahas disini. Tapi yang perlu saya bahas disini adalah komentar mereka yang menurut saya negatif. Entahlah mungkin menurut mereka motor itu sebenarnya tidak perlu dikasihani. Tidak perlu dibersihan, tidak perlu dirawat dan sebagainya. Seolah-olah saya beranggapan motor saya ini ibaratnya sapi perah yang hanya diperlukan susunya saja. Padahal jujur saja motor yang saya beli pertengahan tahun 2008 ini telah sangat banyak membantu berbagai aktifitas saya, teman-teman saya dan keluarga saya. Sungguh saya tidak sanggup jika harus membalas kebaikannya selain hanya merawatnya secara berkala dengan rutin. Bukan karena saya telah cinta dunia atau cinta harta. Melainkan semata-mata karena saya banyak berhutang budi terhadap motor saya ini. Untuk itu. Mulai dari sekarang. Marilah kita berterimakasih terhadap instrument-instrument yang telah kita gunakan selama ini. Yakni dengan cara merawat dan menjanganya sebaik mungkin.

Jumat, 26 Maret 2010

Fatawakkal 'Alallah

Sudah merupakan hal yang wajar. Jika di dalam menjalani hidup ini umat manusia selalu merasa perlu untuk berusaha demi mencapai sebuah tujuan atau cita-cita yang ingin diraihnya. Sangat mustahil sekali seseorang dapat mengapai impiannya dengan mudah tanpa berusaha. Kalaupun ada mungkin itu hanyalah sebuah dongeng belaka yang tidak jelas dari mana asal usulnya. Dalam berusaha tersebut, adakalanya apa yang diinginkan seseorang tercapai sesuai rencana. Adapula yang tercapai tapi masih kurang maksimal, ada juga yang masih belum menampakkan hasil sama sekali padahal usaha yang mereka lakukan sudah memakan waktu yang sangat lama serta biaya yang tidak sedikit, bahkan tidak jarang pula ada yang gagal 100%. Dampak dari hasil-hasil pencapaian tersebut pun beragam. Bagi yang keinginannya tercapai biasanya melakukan pesta pora dengan sedemikian meriahnya. Sedangkan yang masih belum mencapai target maksimal akan terlihat serius menyusun kembali rencana dan strategi lain, ada juga yang putus asa dan stres karena tidak terima atas kegagalannya. Gampang menyalahkan orang lain karena merasa dirinyalah yang paling benar sendiri. Kenyataan diatas sering kita jumpai di sekitar kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan, kita pun pernah merasakan dan melakukan hal yang serupa. Seolah-olah setiap usaha yang dilakukan harus (tidak boleh tidak) tercapai sesuai rencana. Jika tidak tercapai kita merasa hal itu bukan karena kesalahan kita, melainkan kesalahan orang lain. Mereka tidak becus dalam bekerja sama, mereka munafik, penghianat dan lain sebagainya. Berbagai macam fitnah dengan kata-kata keji dan kotor dikeluarkan untuk sekedar melampiaskan keputus asaan dan untuk sekedar mengakui diri sendiri bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan rencana. Akibatnya. Perpecahan pun tidak bisa di elakkan. Permusuhan semakin menjadi-jadi, dan akhirnya semua impian-impian tersebut sirna. Tanpa hasil apapun. Bahkan yang ada hanyalah kerugian semata. Baik kerugian secara materi, kebersamaan yang tidak lagi bisa saling dipercaya, kebencian, keangkuhan dan lebih-lebih kerugian yang akan diterima diakhirat nanti. Naudzubillah.. Lalu bagaimana agar supaya kita tidak merasa sentimen terhadap orang lain ketika keinginan yang kita perjuangkan dan usahakan tidak sesuai dengan yang diharapkan? Bagaimana agar supaya kita bisa menerima dan tidak putus asa terhadap usaha-usaha yang menuai kegagalan itu? Caranya cuma satu. Tawakkal. Ya. Tawakkal kepada ALLAH atas berbagai macam usaha yang telah kita lakukan. Apapun hasilnya kita pasrahkan sama Allah. Dalam hal ini telah Allah singgung dalam QS.Ali-Imran:159. فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali-Imran: 159) Ayat Al-Qur'an diatas saya kira sudah cukup untuk menggambarkan apa yang saya paparkan sebelumnya. Bahwa bersikap keras, egois, merasa diri paling benar dan lain sebagainya adalah merupakan tindakan yang sangat merugikan diri sendiri. Teman-teman dan sahabat atau siapapun mitra usaha kita akan menjauhkan diri dari kita. Maka dari itulah. Untuk menghindari hal semacam ini, dalam ayat diatas dijelaskan agar supaya kita berlaku lemah lembut terhadap siapapun, baik yang berpartisipasi dalam rangka mencapai tujuan kita atau bukan. Selain itu. Kita juga disarankan untuk bermusyawarah dengan mereka hingga tercetuslah sebuah keputusan yang bisa diandalkan, Solid dan berbobot. Berikutnya. Setelah usaha-usaha tersebut kita jalankan. Maka hendaknya kita bertawakkal kepada Allah. Kenapa harus tawakkal? Karena hanya ALLAH yang berhak menentukan apakah usaha kita akan menuai sukses atau sebaliknya. Kita hanya berusaha saja sambil berdoa. Sekuat tenaga dan pikiran kita kerahkan semaksimal mungkin. Dengan demikian, kita tidak perlu putus asa jika sebuah kegagalan menimpa kita. Justru jika kita harus ikhlas dan menerima dengan kondisi seperti ini, maka insyaALLAH tidak menutup kemungkinan ALLAH akan memberikan pahala atas kesabaran, usaha dan ikhtiar kita. Selain itu Allah juga telah menyinggung hal ini dalam QS. Al-Insyirah: 5-8 sebagai berikut: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ. وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyirah: 5-8) Jadi. Ketika usaha kita menuai kegagalan atau kesulitan. Maka percayalah. Bahwa dibalik semua itu suatu saat adakalanya ALLAH pasti akan memudahkan urusan kita untuk mencapai cita-cita itu. Dalam hal ini Allah bukan berarti tidak sayang sama kita ketika usaha tersebut selalu gagal, melainkan hal itu sebenarnya adalah merupakan ujian bagi kita apakah kita sabar dalam menjalani usaha tersebut.. Jadi marilah kita bulatkan tekad untuk meraih cita-cita kita. Masih banyak yang harus kita perjuangkan di dunia ini. Masih banyak hal yang harus kita lakukan dan harus kita selesaikan. Bercita-citalah dan berjuanglah dengan tekad dan keyakinan yang kuat, dengan penuh tawakkal dan kesabaran. Yakinlah bahwa yang dinilai di sisi ALLAH itu bukan pada kesuksesan kita. Melainkan pada kesungguhan ikhtiar dan usaha kita. Kesabaran dan ketawakkalan serta keikhlasan kita dalam menjalaninya. Semoga segala upaya jerih payah kita selama ini dan selanjutnya dalam rangka menggapai impian dan cita-cita kita. Kita melakukannya dengan penuh keikhlasan dan tawakkal. Amin. Wallahu a'lam..